Makanya, HIMKI mendorong agar pemerintah nggak pakai kebijakan satu untuk semua. Perlu pendekatan spesifik yang mempertimbangkan karakteristik unik tiap sektor industri. Soalnya, masalah yang dihadapi furnitur, belum tentu sama dengan kerajinan anyaman, misalnya.
Mimpi Besar dan Upaya Nyata
Sebelumnya, pemerintah lewat Kementerian Perindustrian punya target ambisius: ingin Indonesia jadi pusat produksi furnitur dunia. Caranya dengan penguatan hilirisasi kayu berkelanjutan dan peningkatan daya saing.
Target ini nggak main-main. Pasar furnitur global nilainya fantastis, lebih dari 736 miliar dolar AS! Sektor ini juga jadi penopang hidup bagi ratusan ribu pekerja di dalam negeri.
Data BPS mencatat secercah harapan. Pertumbuhan industri pengolahan pada 2025 diproyeksi 5,30 persen, sedikit lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional. Untuk mendongkrak produktivitas, pemerintah sudah jalanin program restrukturisasi mesin.
Program ini sudah menjangkau 35 perusahaan dengan bantuan total Rp26,1 miliar. Hasilnya? Efisiensi produksi naik sekitar 10,7 persen. Mutu produk bahkan melonjak lebih dari 36 persen, dengan produktivitas ikut terdongkrak hampir 33 persen. Angka-angka yang cukup memberi angin segar di tengah tantangan yang ada.
Artikel Terkait
KRI Canopus-936 Tiba di Cape Town dalam Misi Diplomasi Maritim
Jaksa Agung: Kebakaran Gedung Lama Bawa Hikmah, Kejagung Kini Tak Lagi Kayak Kantor Kelurahan
Wakil Ketua MPR Apresiasi Kesepakatan Pasokan Migas Indonesia-Rusia
Tim Kemenkumham Selidiki Video Napi Korupsi Singgah ke Coffee Shop Usai Sidang