Di sisi lain, opsi lain seperti Jenewa sepertinya kurang disukai. Trump terang-terangan meremehkan kemungkinan pembicaraan di kota netral itu.
Meski begitu, masih ada beberapa hal yang belum jelas. Trump menolak menyebut siapa wakil AS yang akan dikirim jika perundingan benar-benar terjadi. Padahal, akhir pekan lalu, Wakil Presiden JD Vance sudah memimpin negosiasi di Pakistan yang berakhir tanpa titik terang.
Persoalan substansi juga masih alot. Presiden AS itu secara khusus menyoroti salah satu poin yang disebut-sebut diusulkan oleh negosiatornya sendiri, yakni usulan agar Iran menghentikan pengayaan uranium selama 20 tahun.
Pernyataannya itu seperti menegaskan bahwa ia menginginkan solusi yang lebih permanen, bukan sekadar jeda sementara. Semuanya kini bergantung pada apa yang akan “terjadi” dalam dua hari ke depan, seperti yang ia katakan.
Artikel Terkait
Wali Kota Jayapura Imbau Warga Waspada dan Jaga Kebersihan Antisipasi Banjir
Polisi Ringkus Pengedar di Bogor, Sita Ribuan Butir Obat Keras
DPRD Jatim Panggil Marinir Bahas Penanganan Kasus Peluru Nyasar di Gresik
Politisi PDIP Desak Penegakan Hukum Maksimal untuk 16 Mahasiswa FHUI Terduga Pelecehan