Momen pertemuan ini memang krusial. Baru sepekan sebelumnya, gencatan senjata rapuh antara AS, Israel, dan Iran baru saja ditandatangani. Situasinya masih sangat labil.
Konflik yang lebih luas sebenarnya sudah memanas sejak akhir Februari, diawali serangan AS-Israel ke Iran. Hezbollah lalu membalas di awal Maret, yang memicu ofensif besar-besaran Israel. Korban jiwa di Lebanon dikabarkan sudah lebih dari 2.000 orang, dengan 1,2 juta lainnya terpaksa mengungsi. Angka yang sungguh memilukan.
Kehadiran Rubio yang juga menjabat penasihat keamanan nasional Presiden Trump jelas bukan tanpa maksud. Washington punya kepentingan besar melihat kemajuan di sini.
Trump sendiri dikabarkan mendesak Israel agar mengurangi serangan di Lebanon. Tujuannya, agar gencatan senjata dengan Iran tidak buyar. Perang ini telah memicu gangguan pasokan minyak terparah dalam sejarah, dan tekanan untuk segera mencari jalan keluar semakin besar.
Tapi jalan itu berliku. Iran bersikukuh bahwa kampanye Israel melawan Hezbollah di Lebanon harus jadi bagian dari setiap kesepakatan untuk mengakhiri perang. Posisi ini tentu mempersulit pembicaraan yang selama ini dimediasi Pakistan. AS menolak mentah-mentah, dengan alasan kedua jalur perundingan itu tak terkait.
Di awal pertemuan, Rubio sendiri tampaknya tak berharap terlalu muluk. Ia mengakui bahwa pembicaraan hari itu tak akan menyelesaikan "seluruh kompleksitas" yang ada.
Tapi setidaknya, ia berharap ini bisa menjadi awal untuk membentuk sebuah kerangka. Sebuah fondasi yang lama hilang, untuk sesuatu yang disebut perdamaian.
Artikel Terkait
Final Trailer Ikatan Darah Tampilkan Aksi Brutal dan Lokalitas Indonesia
Gadis 13 Tahun dari Pontianak Jadi Calon Haji Termuda, Gantikan Almarhumah Ibu
Upaya AS Capai Grand Bargain dengan Iran Terkendala Perbedaan Mendasar
BRIN Peringatkan Bahaya Ikan Sapu-Sapu: Invasif dan Berpotensi Mengandung Logam Berat