Washington bersiap menyambut pertemuan penting. Duta besar Israel dan Lebanon dijadwalkan bertemu di sana Selasa malam ini, sebuah pertemuan resmi yang dihela oleh Departemen Luar Negeri AS. Tapi, jauh sebelum delegasi duduk satu meja, suasana sudah terasa muram. Israel, lewat kabar yang beredar, sudah menyampaikan penolakannya terhadap ide gencatan senjata di tahap awal pembicaraan.
Laporan dari surat kabar Haaretz mengungkap sikap keras Benjamin Netanyahu. Perdana Menteri Israel itu menyebut pembicaraan ini cuma "taktik untuk mengulur waktu." Menurutnya, ini cara untuk terlihat punya itikad baik di depan pemerintahan Amerika dan Presiden Donald Trump, tanpa benar-benar berniat menghentikan pertempuran.
“Leiter akan hadir dalam pembicaraan dengan instruksi untuk tidak menyetujui gencatan senjata, yang akan membuat sangat sulit untuk menemukan titik temu dengan pihak Lebanon,”
Ini jadi kabar buruk bagi Lebanon. Negeri itu disebut-sebut sudah berusaha meraih kesepakatan gencatan senjata selama forum dialog nanti. Upaya yang, omong-omong, juga dikritik habis oleh Hizbullah.
Konflik di perbatasan utara Israel sendiri sudah memakan korban yang tidak sedikit. Sejak awal Maret, serangkaian serangan besar-besaran dilancarkan. Angkanya mengerikan: lebih dari dua ribu orang tewas, dan ribuan lainnya terluka. Situasi inilah yang mendesak perlunya sebuah solusi.
Di sisi lain, prioritas Israel tampaknya berbeda. Bagi Tel Aviv, isu pelucutan senjata Hizbullah adalah hal utama. Meski begitu, belum jelas apakah mereka akan mengaitkan kemajuan pembicaraan dengan tuntutan itu. Yang pasti, dengan instruksi tegas untuk tidak setuju gencatan, jalan menuju kesepakatan terlihat sangat terjal.
Artikel Terkait
Ghost in the Cell Joko Anwar Tayang April 2026, Usung Satir Politik di Balik Cerita Horor Penjara
Empat Prajurit TNI Segera Disidang Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS
Gubernur DKI Panggil Seluruh Wali Kota Bahas Penanganan Ikan Sapu-sapu
Tiga Peron Stasiun Bogor Ditutup 90 Hari untuk Proyek Perpanjangan Rel