Israel Tolak Gencatan Senjata dalam Pembicaraan dengan Lebanon di Washington

- Selasa, 14 April 2026 | 20:00 WIB
Israel Tolak Gencatan Senjata dalam Pembicaraan dengan Lebanon di Washington
Pembahasan Ulang

Washington bersiap menyambut pertemuan penting. Duta besar Israel dan Lebanon dijadwalkan bertemu di sana Selasa malam ini, sebuah pertemuan resmi yang dihela oleh Departemen Luar Negeri AS. Tapi, jauh sebelum delegasi duduk satu meja, suasana sudah terasa muram. Israel, lewat kabar yang beredar, sudah menyampaikan penolakannya terhadap ide gencatan senjata di tahap awal pembicaraan.

Laporan dari surat kabar Haaretz mengungkap sikap keras Benjamin Netanyahu. Perdana Menteri Israel itu menyebut pembicaraan ini cuma "taktik untuk mengulur waktu." Menurutnya, ini cara untuk terlihat punya itikad baik di depan pemerintahan Amerika dan Presiden Donald Trump, tanpa benar-benar berniat menghentikan pertempuran.

“Leiter akan hadir dalam pembicaraan dengan instruksi untuk tidak menyetujui gencatan senjata, yang akan membuat sangat sulit untuk menemukan titik temu dengan pihak Lebanon,”

Ini jadi kabar buruk bagi Lebanon. Negeri itu disebut-sebut sudah berusaha meraih kesepakatan gencatan senjata selama forum dialog nanti. Upaya yang, omong-omong, juga dikritik habis oleh Hizbullah.

Konflik di perbatasan utara Israel sendiri sudah memakan korban yang tidak sedikit. Sejak awal Maret, serangkaian serangan besar-besaran dilancarkan. Angkanya mengerikan: lebih dari dua ribu orang tewas, dan ribuan lainnya terluka. Situasi inilah yang mendesak perlunya sebuah solusi.

Di sisi lain, prioritas Israel tampaknya berbeda. Bagi Tel Aviv, isu pelucutan senjata Hizbullah adalah hal utama. Meski begitu, belum jelas apakah mereka akan mengaitkan kemajuan pembicaraan dengan tuntutan itu. Yang pasti, dengan instruksi tegas untuk tidak setuju gencatan, jalan menuju kesepakatan terlihat sangat terjal.

Pemerintah Lebanon sebenarnya sudah mulai menggerakkan rencana untuk melucuti kelompok bersenjata itu. Tapi Hizbullah bersikukuh. Mereka berargumen sebagai "gerakan perlawanan" dan tak berniat meletakkan senjata.

Pertemuan di Washington nanti akan dihadiri sederet nama penting. Dari Israel ada Duta Besar Yechiel Leiter, sementara Lebanon mengirim Nada Muaawad. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Duta Besar AS untuk Beirut, Michel Issa, juga akan hadir memfasilitasi.

Menurut harian Yedioth Ahronoth, ada harapan agar pertemuan ini bisa menghasilkan pernyataan bersama dari kedua duta besar. Tapi, tak ada pertemuan lanjutan yang dijadwalkan untuk minggu ini. Semua harapan seolah digantungkan pada satu malam itu.

Israel mengklaim telah bersedia mengurangi intensitas serangannya di Lebanon, menyesuaikan dengan hasil negosiasi. Namun begitu, pernyataan resmi dari pihak Israel terkait laporan-laporan ini masih belum keluar. Semuanya masih dalam bayang-bayang ketidakpastian.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar