Dengan status ini, posisi Indonesia setara dengan raksasa ekonomi seperti Tiongkok dan India dalam klasifikasi FTSE. Prestasi yang patut disyukuri.
Di sisi lain, ketangguhan ekonomi nasional dapat kabar baik dari lembaga lain. Asian Development Bank (ADB) dalam laporan Asian Development Outlook edisi April 2026 memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil. Mereka memperkirakan ekonomi akan tumbuh 5,2 persen di tahun 2026 dan 2027.
Angka itu jauh di atas rata-rata proyeksi untuk kawasan Asia Tenggara yang hanya 4,7 persen. Menurut ADB, pilar utamanya adalah permintaan domestik yang tangguh, inflasi yang berhasil dikendalikan di sekitar 2,5 persen, plus kebijakan moneter yang terkalibrasi dengan baik. Faktor-faktor inilah yang menjaga Indonesia tetap berdiri tegak di tengah badai ketidakpastian global.
Pemerintah memandang dua kabar baik ini dari FTSE Russell dan ADB sebagai validasi. Sebuah bukti bahwa arah kebijakan makroekonomi yang ditempuh selama ini sudah tepat. Stabilitas fundamental dalam negeri rupanya menjadi jangkar yang ampuh untuk mempertahankan kepercayaan investor jangka panjang.
Ke depan, komitmen untuk terus memperdalam reformasi pasar keuangan tetap kuat. Pemerintah dan OJK sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi review kuartalan FTSE Russell pada Juni 2026, serta penilaian dari MSCI pada Mei mendatang. Tujuannya jelas: memastikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan tahan banting terhadap berbagai guncangan dari luar.
Jalan masih panjang, tapi setidaknya langkah awal ini cukup melegakan.
Artikel Terkait
Israel dan Lebanon Sepakat Mulai Negosiasi Langsung, Mediasi AS
Dembele Bawa PSG Hancurkan Liverpool di Anfield, Lolos ke Semifinal Liga Champions
AS Fasilitasi Pertemuan Langka Israel-Lebanon, Agenda Masih Berbeda Jauh
PSG Hancurkan Liverpool 2-0, Lolos ke Semifinal Liga Champions dengan Agregat 4-0