Di ruang rapat Komisi VIII DPR, Senayan, suasana cukup serius Selasa lalu. Para anggota dewan dan perwakilan Kementerian Haji dan Umrah duduk berhadapan membahas persoalan yang cukup pelik: persiapan haji 2026. Fokus utamanya? Soal biaya yang ternyata membengkak cukup signifikan.
Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf, yang memimpin rapat itu, langsung menyampaikan pokok persoalan. Ia memaparkan bahwa total biaya penyelenggaraan naik dari Rp 6,69 triliun menjadi Rp 8,46 triliun. Lonjakan sebesar Rp 1,77 triliun itu, menurutnya, terutama dipicu oleh kenaikan harga avtur yang berdampak pada komponen transportasi udara.
“Alhamdulillah, Presiden sudah menegaskan. Pelonjakan biaya ini jangan sampai dibebankan kepada jemaah,” ujar Irfan tegas.
Nah, karena itu, pemerintah butuh persetujuan DPR untuk sumber pembiayaannya. Irfan menyebut Kemenhaj sudah berkoordinasi dengan Kejagung soal legalitasnya dan menyiapkan sejumlah alternatif, termasuk menggunakan APBN.
“Kami berharap dalam rapat kerja ini bisa disetujui besaran dan sumber dananya. Angkanya sudah jelas, total selisih yang diperlukan Rp 1,77 triliun,” tambahnya.
Selain soal biaya, ada sedikit masalah lain yang diungkap Menteri Irfan. Ternyata, salah satu penyedia layanan makan untuk jemaah di Makkah memutuskan mundur. Tapi tenang, katanya, masalah ini sudah diatasi dengan mendistribusikan kembali kuota 3.500 porsi itu ke tiga penyedia layanan lainnya.
Artikel Terkait
Dua Perempuan di Lebak Ditahan Usai Sumpah dengan Meninjak Al-Quran
Santri 16 Tahun di Bangka Diduga Dianiaya Senior, Dilaporkan ke Polisi
Mensos Gus Ipul Bahas Program Serap Penerima PKH Lewat Koperasi Desa
Survei: 73,8 Persen Publik Puas dengan Penanganan Bencana Sumatra