Santri 16 Tahun di Bangka Diduga Dianiaya Senior, Dilaporkan ke Polisi

- Selasa, 14 April 2026 | 21:15 WIB
Santri 16 Tahun di Bangka Diduga Dianiaya Senior, Dilaporkan ke Polisi

Bangka – Seorang santri berusia 16 tahun di Kabupaten Bangka menjadi korban dugaan penganiayaan. Pelakunya? Diduga justru seniornya sendiri di pondok pesantren tempat ia menimba ilmu. Peristiwa ini sudah dilaporkan ke polisi, mengingat kondisi korban yang cukup parah hingga harus dirawat intensif di rumah sakit.

Laporan resmi telah masuk ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Bangka Belitung. Yang melaporkan adalah Suryanto, ayah dari korban berinisial HZ. Ia ingin kasus anaknya ini mendapat kejelasan hukum.

Suryanto sendiri awalnya tak tahu apa-apa. Kabar buruk itu datang dari dua santri lain yang tiba-tiba muncul di rumahnya. Mereka bilang, HZ sudah dilarikan ke rumah sakit. Begitu sampai di sana, sang ayah langsung terpukul. Anaknya terbaring lemah, dengan luka-luka di sekujur tubuh.

Dari penuturan korban, penganiayaan ini diduga melibatkan lebih dari satu senior. Pemukulan terjadi di bagian dada, kepala, dan kaki. Bahkan, ada indikasi mereka menggunakan benda keras semacam rantai.

Rasa sedih dan geram bercampur dalam ucapan Suryanto. Ia tak ingin ada santri lain yang merasakan penderitaan serupa.

"Cukuplah anak saya yang jadi korban, Mas. Sedihlah orang tua, melihat anak seperti itu (lebam-lebam). Kalau di dada itu ada bekas pemukulan. Mandep (membekas), pengakuannya itu dirantai katanya. Iya kepala juga, kepala sama ini dipukul juga. Sudah sadar (kondisi korban), tapi masih kacau dia sekarang, Mas,"

Ungkapan pilu itu ia sampaikan pada Selasa, 14 April 2026.

Hingga berita ini diturunkan, HZ masih terbaring di Rumah Sakit Mitra Medika Pangkalpinang. Proses penyembuhan masih berjalan. Di sisi lain, aparat kepolisian juga masih mendalami kasus ini. Penyidikan terus digulirkan untuk mengusut tuntas dugaan tindak pidana kekerasan terhadap anak tersebut. Harapannya, proses hukum bisa berjalan sebagaimana mestinya.

Namun begitu, satu hal yang pasti: kejadian di balik tembok pesantren itu telah meninggalkan luka, bukan hanya di tubuh seorang remaja, tapi juga di hati keluarganya.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar