✍🏻 M Rizki Fauzi
Suriah, bagi banyak kalangan, bukan sekadar lokasi geografis. Ia lebih dari itu sebuah garis pemisah. Di sana, kebenaran dan kebatilan seolah menemukan batasnya yang paling jelas. Memang, tak semua yang menyatakan diri pro-Palestina akan serta-merta sepakat dengan kondisi Suriah hari ini. Tapi, sebaliknya, mereka yang berdiri di pihak Suriah saat ini, hampir bisa dipastikan, juga berpihak pada perjuangan kaum muslimin di Palestina.
Dan di tanah inilah, konon, pasukan terbaik nantinya akan melaksanakan sholat bersama Nabi Isa alaihissalam.
Ceritanya berawal dari sebuah riwayat. Dari An Nawwas bin Sam’an, ia berkata, “Pada suatu pagi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menyebut-nyebut Dajjal. Suara beliau kadang lirih, kadang mengeras, sampai-sampai kami mengira makhluk itu bersembunyi di balik rumpun pohon kurma di dekat kami…”
“Nah, di saat Dajjal sedang dalam puncak kekuatannya itu, tiba-tiba ‘Isa putra Maryam turun. Tempatnya di sebelah timur Damaskus, tepatnya di sebuah menara putih. Ia mengenakan dua lapis pakaian yang dicelup wars dan za’faran. Kedua tangannya bertumpu pada sayap dua malaikat. Setiap kali ia menunduk, air menetes. Setiap kali ia angkat kepala, butiran air bercucuran bak mutiara. Bau napasnya begitu harum, menjangkau sejauh mata memandang, dan mematikan bagi setiap kafir yang menciumnya. Isa lalu mencari Dajjal, bertemu di gerbang Ludd yang letaknya di Palestina, sekitar 15 km dari Tel Aviv dan membunuhnya di sana.”
Setelah itu, Isa mendatangi sekelompok orang yang telah dilindungi Allah dari fitnah Dajjal. Ia mengusap wajah mereka satu per satu, lalu menceritakan betapa tinggi kedudukan mereka di surga nanti. (HR. Muslim no. 2937)
Lalu, menara putih yang disebutkan itu di mana persisnya? Menurut penjelasan Ibnu Katsir rahimahullah, jawabannya cukup spesifik. Beliau menyatakan, “Dalam beberapa kitab yang aku baca, disebutkan bahwa turunnya Isa bin Maryam terjadi di menara putih yang terletak di sisi timur Jaami’ Damaskus, atau yang kita kenal sebagai Masjid Umayyah. Riwayat inilah yang dianggap paling kuat dan tepat.”
Alasannya? Karena begitu Nabi Isa turun, waktu shalat segera tiba.
“Tiba-tiba Isa sudah berada di tengah-tengah mereka. Lantas, azan dikumandangkan. Ada yang berkata padanya, ‘Wahai Ruh Allah, silakan maju dan pimpinlah kami.’”
Tapi Isa menolak halus. “Tidak,” katanya. “Biarkan pemimpin kalian sendiri yang maju dan mengimami shalat ini.” (HR Muslim & Ahmad).
Artikel Terkait
Tiga Bocah Tewas Tenggelam di Waduk Lamongan Saat Coba Tolong Teman
Delapan Rumah Hangus Terbakar di Permukiman Padat Makassar, Diduga Dipicu Mainan Api Anak
Sidang Isbat Kemenag Tetapkan Awal Ramadhan 1447 H Malam Ini
Bupati Bone Turun ke Pasar Pantau Harga Pokok Jelang Ramadhan