Di sisi lain, perbaikan sarana dan prasarana yang terbengkalai juga jadi perhatian. Pengadaan alat berat terakhir dilakukan pada 2021, dan banyak di antaranya yang kini mangkrak. Saat ini, proses perbaikan alat-alat itu sudah diajukan ke penyedia. Rencana pengadaan tanah penutup dan pembenahan kolam penampung lindi juga sedang digarap.
“Kolam lindi harus kita benahi. Butuh bahan kimia juga karena ada indikasi pencemaran di area seluas lebih dari 17 hektar. Untuk ini, kami butuh dana sekitar Rp30 miliar,” paparnya.
Semua pembenahan ini bukan tanpa tujuan jangka panjang. Semuanya berkaitan dengan persiapan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) di Makassar. Proyek ambisius ini diharap bisa mengurangi beban TPA sekaligus mengubah sampah jadi sumber energi. Tahap awal proyek, yaitu pembebasan lahan, diperkirakan menelan anggaran Rp30 miliar.
“Kalau dijumlah, total kebutuhan anggaran yang kami ajukan saat ini sekitar Rp60 miliar,” imbuh Helmy.
Namun, fokus tidak boleh hanya tertumpu di TPA. DLH Makassar juga mendorong pengelolaan sampah dari hulu, tepatnya dari tingkat masyarakat. Distribusi komposter ke tingkat RT/RW digencarkan agar sampah organik bisa diolah mandiri. Pengembangan bank sampah, TPS 3R, dan TPST juga terus didorong. Intinya, mengurangi beban yang sampai ke TPA Antang.
Helmy menegaskan aturan baru yang akan berlaku.
“Mulai 2026, hanya sampah residu yang boleh masuk ke TPA, sesuai regulasi nasional. Artinya, pengelolaan harus dimulai dari sumber. Kalau tidak dikembangkan di wilayah, mau dibuang ke mana sampahnya? Ke depan, kami akan sortir ketat. Sampah organik tidak boleh lagi masuk TPA,” tegasnya.
Pemkot Makassar menargetkan seluruh tahap pembenahan ini bisa segera tuntas. Termasuk penetapan pemenang tender proyek PSEL Makassar Raya dalam tahun 2026 ini. Sementara itu, mereka juga tengah menyelesaikan sanksi administratif dengan melakukan berbagai perbaikan di lapangan selama 180 hari.
“Beban terberat memang ada di TPA. Kondisi di lapangan, termasuk akses jalan yang sering dikeluhkan warga, akan segera kami benahi. Ini prioritas kami,” pungkas Helmy.
Dengan langkah-langkah tersebut, harapannya pengelolaan sampah di Makassar tidak lagi sekadar urusan buang-buang. Tapi berubah menjadi sistem terpadu yang produktif, modern, dan benar-benar berkelanjutan untuk masa depan.
Artikel Terkait
Kemensos Salurkan Bantuan Logistik dan Trauma Healing Pasca Gempa Flores Timur
Prabowo dan Putin Bahas Intensifikasi Dialog di Tengah Gejolak Global
Mantan Ajudan Gubernur Riau Gugat KPK Rp 11 Miliar
Kemensos dan Kemenkop Sinergi Ajak Penerima Bansos Bekerja di Koperasi