“Setiap gerakan militer Amerika yang agresif di kawasan ini diawasi ketat oleh prajurit pemberani kita. Ancaman untuk memblokade itu sangat tidak masuk akal,” tegas Irani dalam siaran televisi pemerintah.
Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga tak kalah bersuara. Mereka secara terpisah mengeluarkan peringatan keras. Menurut IRGC, Selat Hormuz sepenuhnya berada di bawah kendali dan “pengelolaan cerdas” angkatan laut mereka.
Setiap kapal militer yang mendekati selat itu, mereka ancam, akan dianggap melanggar gencatan senjata yang baru berumur dua minggu. “Kami akan tindak tegas dan keras,” begitu bunyi pernyataan resmi mereka.
Meski begitu, IRGC menegaskan bahwa jalur air strategis itu tetap terbuka untuk lalu lintas kapal non-militer yang mematuhi aturan. Intinya, mereka yang bermasalah hanyalah kapal perang.
Latar belakang dari semua ketegangan ini adalah kemarahan Trump. Amarahnya meluap setelah Iran menolak melepas program nuklirnya, yang menjadi batu sandungan utama dalam perundingan damai yang panjang dan melelahkan di Pakistan itu. Kini, dunia kembali menahan napas menyaksikan dua kubu yang saling bersitegang di selat paling vital bagi pasokan minyak global tersebut.
Artikel Terkait
Dekan FH UI Buka Suara Soal Percakapan Diduga Melecehkan Perempuan
DPR Kumpulkan Masukan untuk Revisi UU Peternakan dan Kesehatan Hewan
Paus Leo XIV Tanggapi Kritik Trump dengan Sikap Tenang dan Seruan Damai
95 Tewas dalam Tiga Hari Pertama Perayaan Songkran di Thailand