Lantas, bagaimana cerita Pasukan-M bisa sampai ke Bali? Semua berawal dari permintaan mendesak. Awal Maret 1946, Belanda melakukan pendaratan besar-besaran. Ngurah Rai, yang menjabat sebagai komandan Resimen TKR Teritori Sunda Kecil, pun mengirim permintaan bantuan senjata ke Markas Besar TRI di Yogyakarta.
Permintaannya sampai. Tapi situasinya sulit. Stok senjata di pusat sendiri sangat terbatas.
Setelah berkonsultasi dengan Ngurah Rai, Jenderal Oerip Soemohardjo memutuskan jalan lain: mengirim pasukan dari ALRI. Bukan senjata, tapi manusia-manusia yang bisa bertempur.
Kapten Albert Waroka berangkat lebih dulu bersama Ngurah Rai. Sementara itu, Kapten Markadi menyiapkan pasukannya. Dia membagi empat seksi tiga untuk tempur, satu untuk intelijen dan mengirimnya sebagai garda depan. Perjalanan lewat laut itu penuh risiko. Mereka bahkan sempat bentrok kecil dengan kapal patroli Belanda di Selat Bali. Tapi, untungnya, pendaratan di Bali akhirnya berhasil dilakukan.
Kehadiran Pasukan-M ternyata sangat berarti. Mereka memperkuat barisan perlawanan rakyat Bali. Dari situ, terjalinlah persahabatan yang erat antara Kapten Markadi dan Ngurah Rai. Sebuah persahabatan yang berakhir dengan gugurnya sang pahlawan Bali dalam Puputan Margarana. Kisah kerjasama darat dan laut ini mungkin tenggelam oleh waktu, tapi semangatnya tetap menyala.
Artikel Terkait
BMKG: Hujan Ringan Guyur Banyak Wilayah, Waspada Potensi Hujan Petir di Bandung dan Lampung
The Story So Far dan New Found Glory Batal Tampil di Hammersonic 2026
Pengadilan Militer Dengar Eksepsi Tiga Prajurit TNI AD Terdakwa Penculikan dan Pembunuhan
Pelatih Malut United Soroti Ketidakpatuhan Pemain Usai Takluk di Kandang Sendiri