Semuanya berubah cepat sekitar pukul 00:17 dini hari. Notifikasi darurat dari penyelenggara tiba-tiba muncul di ponsel penonton. Saat itu, Sabrina Carpenter baru saja turun panggung, dan seharusnya giliran Anyma.
Menurut sejumlah saksi, angin berkecepatan 35-40 mph sekitar 60 km/jam menerpa lokasi festival tanpa ampun. Beberapa tenda di area perkemahan bahkan roboh. Dalam kondisi seperti itu, mendirikan panggung futuristik Anyma yang rumit sama sekali mustahil. Bahaya nyata mengintai.
Di sisi lain, meski jadwal akhir pekan pertama sudah padat, Milleri belum menyerah. Ia masih berusaha mencari celah, setidaknya untuk menyuguhkan musik kepada para penggemar setianya. Tapi ia juga sadar, harus fair pada artis lain yang sudah terjadwal.
Malam itu, Coachella mungkin kehilangan satu pertunjukan yang dinanti. Tapi di balik layar, yang tersisa adalah kekecewaan seorang seniman dan timnya, setelah berbulan-bulan berdarah-dadu untuk sebuah momen yang akhirnya direnggut cuaca.
Artikel Terkait
Ayah Tunanetra di Boyolali Hidupi Anak dari Jualan Cilok, Anak Kedua Dapat Sekolah Gratis
Higgs Games Indonesia Gelar Turnamen Domino Rp200 Juta di Surabaya 2026
Pria Tak Dikenal Ditemukan Tewas dengan Luka Leher di Sungai Mrican Jombang
Pemilu Peru 2026: Keamanan Jadi Isu Utama di Tengah Fragmentasi Politik