Perang pada akhirnya berhenti. Dunia mulai membangun kembali. Namun, bagi Onoda dan tiga rekannya yang bertahan, perang itu masih nyata. Mereka melihat selebaran yang dijatuhkan pesawat yang memberitahu tentang menyerahnya Jepang di Agustus 1945 hanya sebagai tipu muslihat belaka. Propaganda musuh, begitu pikir mereka.
Lalu, dimulailah kehidupan yang nyaris tak terbayangkan. Mereka bertahan di tengah hutan belantara, dikelilingi ular dan semut penyengat. Makanan? Hanya kulit pisang, kelapa, dan kadang beras hasil mencuri dari desa. Setiap hari adalah perjuangan melawan kelaparan, yang mereka yakini sebagai bagian dari taktik musuh untuk mengalahkan mereka.
Waktu pun bergulir. Satu per satu rekan Onoda menyerah atau tewas. Hingga akhirnya, tinggal dia sendiri. Dua puluh sembilan tahun. Bayangkan, hampir tiga dekade hidup dalam persembunyian, dengan keyakinan bahwa perang masih berlangsung.
Berbagai upaya dilakukan untuk menjangkaunya. Tim pencari dikerahkan, foto keluarga ditunjukkan. Tapi Onoda tak goyah. Ia sangka semua itu rekayasa. Bahkan suara jet yang melintas di angkasa saat Perang Korea, ia duga sebagai serangan balik Jepang. Koran yang dijatuhkan ke hutannya pun ia cap sebagai 'propaganda Yankee'.
Kampung halamannya di Jepang sudah berubah total, dibombardir lalu dibangun kembali. Tapi Onoda, di sanjungnya hutan Filipina, tetap menjadi prajurit dari era yang telah lama berlalu.
Artikel Terkait
AJ Bramah Cetak 35 Poin dan Bawa Tim Yudha Juara di IBL All-Star 2026
Wali Kota Semarang Kunjungi dan Beri Bantuan kepada Korban Pembegalan di Jalan Halmahera
Menteri Agama Tekankan Kolaborasi dengan Ormas di Pembukaan Muktamar Mathlaul Anwar
Presiden Prabowo Lantik Hakim Konstitusi, Anggota Ombudsman, dan Duta Besar