Dunia mungkin mengenal Perang Dunia Kedua lewat dentuman meriam dan pertumpahan darah. Tapi ada juga kisah lain yang terselip, kisah tentang seorang prajurit yang terisolasi jauh dari medan tempur utama. Ia bersembunyi di balik lebatnya hutan Filipina, bertahan hidup, tanpa tahu bahwa konflik besar itu sudah lama usai.
Letnan Hiroo Onoda. Namanya mungkin tak setenar jenderal-jenderal besar, tapi ceritanya sungguh luar biasa. Dia direkrut tentara Jepang di tahun 1942, lalu mendapat pelatihan khusus sebagai gerilyawan di Sekolah Militer Nakano. Pelatihan itu keras, dan filosofinya jelas: jangan pernah tertangkap hidup-hidup. Aturan Senjinkun melarangnya. Pilihannya cuma dua: gugur dalam pertempuran, atau bunuh diri.
Tapi Onoda mendapat perintah yang lebih spesifik dari atasannya.
"Anda sama sekali dilarang untuk mati dengan tangan Anda sendiri," begitu katanya, seperti tertuang dalam memoarnya bertajuk 'No Surrender: My Thirty-Year War' yang terbit tahun 1974.
"Dalam keadaan apa pun Anda tidak boleh menyerahkan hidup Anda secara sukarela."
Misi yang diembannya adalah menghancurkan lapangan terbang dan dermaga di Pulau Lubang, Filipina. Sayangnya, misi itu gagal total. Pasukan Sekutu menduduki pulau itu dengan cepat, memaksa Onoda dan beberapa rekannya mundur teratur, menghilang masuk ke dalam hutan.
Artikel Terkait
AJ Bramah Cetak 35 Poin dan Bawa Tim Yudha Juara di IBL All-Star 2026
Wali Kota Semarang Kunjungi dan Beri Bantuan kepada Korban Pembegalan di Jalan Halmahera
Menteri Agama Tekankan Kolaborasi dengan Ormas di Pembukaan Muktamar Mathlaul Anwar
Presiden Prabowo Lantik Hakim Konstitusi, Anggota Ombudsman, dan Duta Besar