Perundingan AS-Iran di Islamabad Buntu, Isu Nuklir Jadi Penghalang

- Minggu, 12 April 2026 | 09:45 WIB
Perundingan AS-Iran di Islamabad Buntu, Isu Nuklir Jadi Penghalang

Dari Islamabad, kabar yang datang justru mengecewakan. Perundingan marathon antara Amerika Serikat dan Iran, yang digelar di ibu kota Pakistan itu, akhirnya buntu. Wakil Presiden AS JD Vance mengonfirmasi bahwa delegasinya akan pulang ke Washington tanpa membawa secarik kesepakatan pun.

“Kabar buruknya adalah kita belum mencapai kesepakatan,” ujar Vance kepada para wartawan di Islamabad, Minggu (12/4/2026).

Suaranya terdengar datar, tapi mengandung nada tegas. “Dan saya pikir itu kabar buruk bagi Iran jauh lebih besar daripada kabar buruk bagi Amerika Serikat.”

Pernyataan itu disampaikan setelah negosiasi alot yang berlangsung hampir sehari penuh, sekitar 21 jam. Pakistan, yang bertindak sebagai tuan rumah dan mediator, mendapat pujian dari Vance. Ia menyebut negeri itu telah menjadi “tuan rumah yang luar biasa” dan berhasil mempertemukan kedua pihak di meja perundingan.

Namun begitu, semua upaya itu tampaknya belum cukup.

“Jadi, kami akan kembali ke Amerika Serikat tanpa mencapai kesepakatan,” lanjut Vance. Ia menjelaskan bahwa pihaknya telah menyampaikan batasan dan syarat-syarat mereka dengan sangat jelas. Apa yang bisa mereka akomodasi, dan apa yang tidak. Sayangnya, menurutnya, Iran memilih untuk tidak menerima persyaratan yang diajukan AS.

Lalu, apa sebenarnya yang ditolak oleh Tehran? Vance enggan merinci detailnya. Tapi intinya, menurut dia, menyangkut isu nuklir yang selalu jadi titik panas.

“Faktanya adalah kita perlu melihat komitmen tegas bahwa mereka tidak akan berupaya mengembangkan senjata nuklir,” tegasnya.

Bukan hanya komitmen untuk saat ini atau dua tahun ke depan, melainkan jaminan jangka panjang. Itulah tujuan utama Presiden AS dalam diplomasi ini, dan itulah yang coba dicapai lewat perundingan di Islamabad. “Kita belum melihatnya,” ucap Vance dengan nada kecewa, meski masih menyisipkan harapan. “Kami berharap akan melihatnya.”

Dengan ditutupnya babak perundingan ini, suasana kembali mencekam. Dunia pun menunggu langkah selanjutnya dari kedua negara, sementara jalan damai lewat dialog untuk sementara terlihat kembali menjauh.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar