Dari segi biaya, prosesnya juga jadi lebih efisien. Analisis kredit cuma dilakukan sekali untuk beberapa fasilitas. Untuk bunganya, tetap mengikuti ketentuan KPR pada umumnya. Sementara untuk kredit tambahannya, suku bunganya ditawarkan lebih kompetitif ketimbang pinjaman informal.
Namun begitu, Nixon menegaskan prinsip kehati-hatian tetap nomor satu.
“Pasti bergantung kemampuan bayar, repayment capacity, pengaturan limit. Tapi intinya adalah tidak akan ada dua atau tiga proses facility. Dalam satu proses, dalam satu akad, langsung kita keluarkan dua-tiga produk,” tegas dia.
Rupanya, rencana BTN tidak berhenti di furnitur dan elektronik. Mereka juga sedang mengembangkan paket bundling yang lebih luas, yang mencakup pembiayaan untuk kendaraan bermotor.
“Kita lagi bikin PKS dengan satu multifinance untuk kendaraan. Kita lagi dorong supaya kendaraannya kalau bisa listrik,” kata Nixon.
Jadi, bayangkan saja. Ke depannya, dalam satu kali pengajuan, calon pemilik rumah bisa sekaligus mengurus dana untuk rumahnya, isi rumah, plus mobil listrik. Semuanya terkelola dalam satu atap. BTN tampaknya serius ingin mempermudah sekaligus mengamankan perjalanan nasabah mewujudkan rumah idaman.
Artikel Terkait
Bhutan Jual 9.000 Bitcoin Negara, Cairkan Rp10 Triliun untuk Pembangunan
Indonesia Catat 53,52 Miliar Jam Penggunaan Ponsel, Generasi Alpha di Bawah 13 Tahun Jadi Sorotan
KPK Tangkap Bupati Tulungagung Terima Rp335 Juta di Pendopo Kabupaten
Liverpool Kembali ke Jalur Kemenangan Usai Taklukkan Fulham 2-0