Hidup serba kekurangan. Mau masak, mandi, cuci, semuanya dihitung. Tapi sekarang? "Kami kelimpahan air," ujarnya singkat, senyum mengembang.
Dan kelebihan air itu membawa berkah lain. Pekarangan yang dulu gersang dan cuma ditumbuhi debu, sekarang hijau. Bernadetha dan tetangganya mulai menanam apa saja: kacang panjang, kangkung, terung, sawi. Hasilnya? Untuk makan sendiri, dan sisanya dijual.
Di sisi lain, Marthen Luther Adji, anggota DPRD Sikka dari Partai Perindo, menjelaskan latar belakang program ini. Menurutnya, ini adalah wujud komitmen partainya untuk memberi solusi nyata, bukan sekadar wacana.
Dia mengakui, ini masih tahap awal. Jaringannya baru mencakup wilayah sekitar sumur. Tapi rencananya akan diperluas. Dusun Wairhubing dan Wetakara menjadi target berikutnya. Harapannya, ini bisa jadi solusi jangka panjang untuk krisis air yang sudah akut.
Pada akhirnya, yang terjadi di Watuliwung ini lebih dari sekadar urusan pipa dan tandon. Air yang mengalir itu telah mengubah pola pikir. Dari sekadar bertahan hidup, warga kini mulai berpikir untuk berkembang. Mereka menanam, berjualan, mandiri. Air bersih telah menjadi fondasi fondasi yang kokoh untuk membangun kesejahteraan dari tingkat yang paling dasar: pekarangan rumah sendiri.
Artikel Terkait
Indonesia Desak PBB dan Lebanon Usut Tuntas Insiden Tewasnya Tiga Prajurit TNI di UNIFIL
Polisi Gerebek Pabrik Ekstasi di Apartemen Mewah Jakarta Timur, 2 Tersangka Diamankan
Bareskrim Ungkap 755 Kasus Penyelewengan BBM dan Elpiji Bersubsidi, Negara Rugi Rp1,26 Triliun
Menteri Haji Paparkan Kenaikan Biaya Penerbangan Haji 2026 Akibat Lonjakan Avtur dan Rupiah Melemah