Namun begitu, Iran tampaknya punya agenda lain. Menurut sejumlah laporan, mereka malah sudah mulai memungut biaya dari beberapa kapal yang diizinkan lewat. Situasinya memang berubah.
"Situasi Selat Hormuz tidak akan kembali ke kondisi sebelum perang," tulis Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, di platform X bulan lalu. Pernyataan itu seperti menegaskan babak baru telah dimulai.
Pandangan serupa disampaikan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Ia mendorong terciptanya "tatanan baru" dalam pengelolaan selat pascakonflik. Tujuannya, katanya, untuk menjamin keamanan pelayaran tapi sekaligus menjaga kepentingan nasional Iran.
"Saya percaya bahwa setelah perang, langkah pertama adalah menyusun protokol baru untuk Selat Hormuz. Secara alami, hal ini harus dilakukan oleh negara-negara yang berada di kedua sisi selat," jelasnya kepada Al Jazeera pada Maret lalu.
Sementara itu, dari Gedung Putih ada sinyal lain. Mereka sebelumnya menyebut Trump sedang mempertimbangkan opsi untuk membebankan biaya perang kepada sekutu-sekutu Arab. Tujuannya? Menutup pengeluaran AS dalam konflik melawan Iran. Semuanya berputar pada soal siapa yang bayar, dan siapa yang dapat untung.
Jadi, wacana tarif Trump bukan sekadar omongan. Itu bagian dari pertarungan yang lebih besar: siapa yang berhak mengontrol gerbang energi dunia, dan dengan harga berapa.
Artikel Terkait
BGN Klarifikasi Video Viral: Motor Listrik untuk Program MBG, Bukan 70 Ribu Unit
Pria Meninggal Diduga Serangan Jantung di Warung Soto Bogor
Iran Sebut Ancaman Trump Hancurkan Infrastruktur sebagai Omong Kosong yang Arogan
BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem dan Banjir Rob Ancam 17 Wilayah di Jawa Tengah