Rincian acaranya sendiri cukup padat. Tanggal 10 April bakal dibuka dengan doa bersama, pengajian, dan tausiah. Esoknya, 11 April, Lapangan Banteng akan hidup dengan pertunjukan ondel-ondel, silat, dan lenong Betawi yang berlangsung hingga malam. Hari terakhir, 12 April, diisi dengan aktivitas seperti senam pagi, karnaval budaya yang meriah, prosesi hantaran, dan tentu saja, pesta kuliner Betawi.
Sekretaris Daerah DKI Jakarta, Uus Kuswanto, melihat momen ini lebih dari sekadar pesta.
"Lebaran Betawi bukan sekadar perayaan, tetapi momentum memperkuat persatuan, kebersamaan, serta melestarikan nilai budaya Betawi sebagai identitas Jakarta," ujarnya.
Makanya, tema yang diusung tahun ini adalah penguatan persatuan dalam merawat tradisi menuju kota global. Di sisi lain, acara ini juga jadi peluang bisnis. Produk-produk UMKM lokal akan dipasarkan lewat bazar yang digelar selama tiga hari itu.
Soal pelestarian tradisi, Ketua Dewan Adat Majelis Kaum Betawi, Fauzi Bowo, punya penekanan tersendiri.
"Tradisi ini menjaga ikatan kekeluargaan, persaudaraan, dan persatuan kaum Betawi. Salah satu tugas kami adalah menjaga marwah tersebut," katanya.
Jika dirunut, tradisi Lebaran Betawi ini sudah berjalan cukup lama, sejak 2008 silam. Tahun 2026 nanti, penyelenggaraannya akan memasuki usia ke-18. Sebuah perjalanan budaya yang patut dipertahankan.
Artikel Terkait
Deontay Wilder Menang Tipis Atas Derek Chisora dalam Laga Sengit, Chisora Umumkan Pensiun
Operasi Militer Nigeria Tewaskan Lebih 60 Bandit Penculik di Zamfara
Pengakuan Bung Karno: Akulah yang Mengirim Rakyat ke Paksa Kerja Romusha
Jadwal Salat 6 April 2026 untuk Wilayah DKI Jakarta