Sebenarnya, Mijah dan Deri sempat pesimis. Lokasi desa mereka yang jauh dan aksesnya sulit membuat mereka tak terlalu berharap perhatian pemerintah akan sampai. Namun, kedatangan Tito mengikis keraguan itu. "Kami-kami orang enggak nyangka bakal datang, karena untuk sampai ke sini pertama aksesnya sulit dan jauh. Tapi ternyata Bapak Mendagri beneran sampai ke sini. Ya alhamdulilah kondisi kami bisa dilihat dari dekat," sambung Mijah.
Rasa lega pun terasa. Setidaknya, suara mereka sudah didengar oleh orang nomor satu di Kementerian Dalam Negeri.
Menanggapi hal ini, Tito menjelaskan bahwa kunjungannya memang sengaja dilakukan untuk memastikan para penyintas tidak terlalu lama terpuruk. Dalam dialog itu, ia menyerap aspirasi warga, terutama soal kebutuhan mendesak akan sumur bor dan hunian sementara (huntap) komunal.
Menariknya, mayoritas warga justru memilih opsi hunian tetap komunal. Alasannya cukup kuat: sebagian besar wilayah tempat tinggal mereka rawan banjir akibat luapan sungai. Sebuah pilihan yang mencerminkan kearifan lokal dan kesadaran akan ancaman yang mungkin berulang.
Artikel Terkait
Banjir Bandang di Angola Tewaskan 15 Orang dan Rendam Ribuan Rumah
Lebaran Betawi ke-18 Digelar di Lapangan Banteng April 2026
Serangan Udara Israel di Beirut Selatan Tewaskan 4 Orang, Luka 30
Arbeloa Anggap Beban Kekalahan Madrid ke Mallorca Sebagai Tanggung Jawab Pribadi