Di sisi lain, Ketua PWM DKI Jakarta, Abu Bakar, memberikan penjelasan lebih rinci. Menurutnya, istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang warga Muhammadiyah asal Gombong bernama Rachmad, masih di tahun 1924 itu. Ejaan awalnya memang 'Chalal Bichalal' atau 'Alal Bahalal'.
Barulah pada 1948 istilah ini meluas secara nasional. Popularitasnya melejit berkat peran tokoh Nahdlatul Ulama, KH. Wahab Chasbullah, bersama Presiden Soekarno. Mereka mempopulerkannya dalam forum-forum kebangsaan di Istana Negara.
Bagi Abu Bakar, silaturahim seperti yang digelar hari itu punya nilai strategis yang dalam. Pertemuan semacam ini, katanya, memperkuat semangat rahmah mempererat hubungan dengan landasan kasih sayang yang melampaui ikatan darah. Juga menguatkan ukhuwah, baik antar sesama Muslim maupun sesama manusia secara umum.
Jadi, dari sekadar tradisi lokal dan gagasan di media internal, praktik halal bihalal akhirnya tumbuh menjadi budaya nasional. Sebuah warisan yang terus hidup, menyatukan orang dari berbagai latar, setiap kali Syawal tiba.
Artikel Terkait
Jembatan Beton Gantikan Jembatan Sasak Rapuh di Boyolali, Warga Bersyukur
Serangan Israel di Tyre Rusak Rumah Sakit, 11 Orang Luka-luka
Presiden Prabowo Beri Penghormatan Terakhir kepada Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon
Media Israel Seragamkan Narasi Perang Iran dengan Slogan dan Sensor Ketat