Media Israel Seragamkan Narasi Perang Iran dengan Slogan dan Sensor Ketat

- Sabtu, 04 April 2026 | 18:35 WIB
Media Israel Seragamkan Narasi Perang Iran dengan Slogan dan Sensor Ketat

Pesan itu terus bergema di layar kaca: Iran "harus dihentikan", atau Israel menuju kehancuran. Perlahan tapi pasti, narasi itu meresap jauh ke dalam benak publik.

Bayangkan Anda menyalakan televisi pada 24 Maret lalu. Di Channel 14, stasiun yang dikenal loyal pada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, program "Patriots" baru saja dimulai. Langsung saja, deretan video ledakan dan serangan udara menghantam layar. Rekaman itu dipadukan dengan klaim kemenangan dari Netanyahu dan Donald Trump, diiringi musik dramatis bernuansa militer yang memekakkan telinga.

Di sana, slogan-slogan perang seperti "Kami akan menang" dan "Dengan pertolongan Tuhan" terpampang jelas, berdampingan dengan bendera Israel. Pola siaran seperti ini, dengan variasi yang sedikit berbeda, nyaris menjadi menu harian setiap malam.

Banyak yang menyebut Channel 14 sebagai "Fox News-nya Israel." Suasana siarannya, sebulan setelah perang dengan Iran berkecamuk, menggambarkan dengan jelas wajah media arus utama di sana: penuh semangat patriotik, minim kritik, dan sejalan dengan pesan resmi pemerintah. Sejak serangan AS-Israel pada 28 Februari 2026, televisi-televisi di seluruh spektrum politik Israel seragam menampilkan slogan perang dan bendera kedua negara, sebuah visual yang menegaskan koordinasi yang erat.

Mirip Tapi Tak Sama: Liputan Gaza vs. Iran

Gaya pemberitaan ini tak bisa tidak mengingatkan pada pola liputan konflik Gaza dua tahun terakhir. Kala itu, media Israel juga menekankan pesan persatuan nasional dan ketahanan kolektif. Namun begitu, seiring waktu, beberapa media mulai mempertanyakan kapasitas pemerintah, terutama soal nasib para sandera. Kritik itu tetap ada, meski narasi dan gambar penderitaan warga Palestina hampir tak pernah muncul. Singkatnya, perspektif Israel mendominasi mutlak.

Nah, sejak serangan ke Iran, televisi Israel langsung beralih ke "mode perang" yang sama. Channel 14 kembali memakai jargon-jargon lama dari era Gaza, seperti "kemenangan total". Sementara jaringan arus utama memilih bahasa yang sedikit lebih lunak. Channel 12, contohnya, kini pakai slogan "Bersama sampai akhir," yang merupakan versi lebih moderat dari "Bersama kita akan menang" yang dulu dipakai.

Yang menarik perhatian adalah atribut yang dikenakan para analis. Jika dulu terkait Gaza, pin kuning untuk sandera dan topi "kemenangan total" menandai perpecahan politik yang dalam, konflik Iran kali ini tidak memunculkan jurang yang sama. Malah, para pengamat di Channel 14 seragam mengenakan pin bergambar "Singa Yehuda" – simbol yang merujuk pada suku kuno sekaligus nama operasi militer saat ini, "Operasi Singa Mengaum."

Wajah Iran di Layar Kaca Israel

Lalu, bagaimana media Israel mendeskripsikan Iran? Konsisten. Mereka mengulang retorika Netanyahu bahwa Iran adalah ancaman eksistensial. Dalam pemberitaan, Iran sering digambarkan sebagai "kepala ular" atau "kepala gurita" yang mengendalikan jaringan kelompok proksi. Kerangka narasi ini sudah dipelihara puluhan tahun.

Netanyahu sendiri, selama hampir tiga dekade, berulang kali memusatkan pidatonya pada ancaman Iran dan program nuklirnya. Pesan bahwa Iran "harus dihentikan" itu, yang terus diulang-ulang, lambat laun meresap dalam kesadaran kolektif. Istilah seperti "ancaman nuklir" pun rutin menghiasi tajuk berita.

Pada Agustus 2025, misalnya, militer Israel menerbitkan artikel berjudul "Di balik perlombaan nuklir Iran: Sebuah panduan lengkap." Isinya menggambarkan apa yang mereka sebut sebagai perlombaan Iran menuju senjata nuklir, sambil mengklaim telah "mengacaukan program senjata nuklir Iran secara mendasar." Situs berita Ynet kemudian menerbitkan laporan dengan materi serupa, kembali menyoroti "perlombaan Iran menuju bom nuklir." Bahkan pada November, mereka menambahkan peringatan: konfrontasi berikutnya hanya soal waktu, dan Iran sedang bersiap meluncurkan "hujan misil."

Narasi yang terus-menerus seperti ini mengukuhkan keyakinan bahwa penggunaan kekuatan militer adalah sesuatu yang efektif, bahkan diperlukan. Sejak perang dimulai, pemberitaan media Israel dipenuhi klaim keberhasilan operasi militer, seringkali menggambarkan angkatan bersenjata di ambang "kemenangan" dan menonjolkan koordinasi erat dengan AS. Pada 27 Maret, Channel 14 menampilkan tajuk utama: "Di Jantung Teheran: Situs Produksi Rudal Balistik Iran Hancur." Nada serupa terdengar di media arus utama, di mana militer disebut "pasukan kita" dan para analis berbicara dengan kekaguman, menggunakan kata-kata seperti "luar biasa" untuk menggambarkan rekaman serangan.

Cerita yang Dihilangkan dari Publik

Tapi, ada banyak hal yang tidak diceritakan. Meski awalnya sempat menunjukkan solidaritas pada demonstran Iran, liputan tentang korban jiwa dan kerusakan di Iran praktis lenyap begitu operasi militer dimulai. Setelah perang 12 hari 2025, deklarasi Netanyahu tentang "kemenangan bersejarah" yang katanya menyingkirkan "ancaman eksistensial" Iran, jarang dibahas lagi. Padahal, kurang dari sembilan bulan kemudian, Israel sudah meluncurkan kampanye militer baru.

Editor: Erwin Pratama


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar