Jenewa, Jumat lalu, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengeluarkan peringatan keras. Lewat sebuah unggahan di media sosial, ia menyoroti situasi kritis yang dihadapi sistem kesehatan di lima negara Timur Tengah. Negara-negara itu adalah Lebanon, Iran, Irak, Suriah, dan Yordania. Menurutnya, dukungan mendesak benar-benar dibutuhkan sekarang juga.
Tekanan yang mereka alami sungguh luar biasa. "Sistem kesehatan di negara-negara yang terdampak sedang mengalami tekanan berat," ujar Tedros. Pemicunya jelas: kekerasan yang semakin intensif dan telah berlangsung berpekan-pekan tanpa henti.
Untuk menangani krisis ini, WHO tidak tinggal diam. Organisasi itu sudah mengajukan permohonan dana darurat senilai 30,3 juta dolar AS. Dana itu akan difokuskan untuk respons kesehatan di lima negara tadi. Angka konversinya? Sekitar Rp17.002 per dolar AS, kalau mau dirupiahkan.
Lalu, untuk apa saja dana sebesar itu digunakan? Rencananya, permohonan bantuan yang mencakup periode Maret 2024 hingga Agustus 2026 ini punya beberapa target krusial. Pertama, tentu untuk mempertahankan layanan kesehatan paling mendasar dan perawatan trauma. Di sisi lain, dana ini juga akan dipakai untuk memperkuat sistem pengawasan penyakit dan peringatan dini. Tak kalah penting, peningkatan kapasitas manajemen korban massal dan kesiapan menghadapi keadaan darurat kimia, biologi, radiologi, bahkan nuklir juga menjadi prioritas.
Nyatanya, dampak konflik ini sudah sangat mengerikan. Data WHO per 31 Maret menunjukkan angka-angka yang suram. Lebih dari 4 juta orang terpaksa mengungsi meninggalkan rumah mereka. Korban jiwa telah melampaui 3.300 orang. Sementara itu, tidak kurang dari 30.000 orang lainnya tercatat mengalami luka-luka. Situasi yang, oleh banyak pihak, dinilai semakin sulit setiap harinya.
Artikel Terkait
Menteri Yandri: Potensi Ekonomi Desa Kunci Sukses Program Makan Bergizi Gratis
BPJS Ketenagakerjaan Luncurkan Layanan Antrean Online via LAPAK ASIK
Komisaris Utama PGN Konversi Mobil Pribadi ke BBG sebagai Contoh Nyata
Jembatan Gantung Akhiri Puluhan Tahun Isolasi Warga Boyolali