Kapal Prancis Pertama Melintasi Selat Hormuz Sejak Konflik dengan Iran Memanas

- Sabtu, 04 April 2026 | 10:15 WIB
Kapal Prancis Pertama Melintasi Selat Hormuz Sejak Konflik dengan Iran Memanas

Paris, awal April Sebuah kapal kontainer milik CMA CGM, perusahaan pelayaran asal Prancis, akhirnya melintasi Selat Hormuz. Peristiwa tanggal 2 April itu mencatatkan sesuatu yang baru: ini adalah kali pertama sebuah kapal berbendera Prancis melewati jalur sengketa itu sejak konflik dengan Iran memanas pada akhir Februari lalu.

Data dari MarineTraffic mengonfirmasi pelayaran itu. Kapal bernama Kribi, yang secara teknis mengibarkan bendera Malta, berhasil melintasi selat yang tengah bergejolak itu. Menariknya, menurut pantauan data pelayaran LSEG, kapal tersebut mengubah tujuan pada sistem AIS-nya menjadi “Owner France” tepat sebelum memasuki perairan yang diklaim Iran.

Ini jelas sebuah penanda. Sebuah sinyal kepada otoritas di Tehran tentang identitas sang pemilik.

Taktik semacam ini rupanya bukan hal yang asing. Sejumlah kapal lain sebelumnya sudah memakai cara serupa untuk menunjukkan netralitas mereka saat melintasi zona konflik. Beberapa kapal asal China, misalnya, juga dilaporkan melakukan hal yang sama. Sebelumnya, Kribi sebenarnya dijadwalkan untuk berlayar menuju Pointe-Noire di Republik Kongo.

Di sisi lain, sikap pemerintah Prancis sendiri sudah cukup jelas. Presiden Emmanuel Macron secara terbuka menyatakan bahwa opsi militer untuk membuka kembali selat itu adalah hal yang tidak realistis.

“Operasi militer untuk membuka selat tidak realistis,” tegas Macron.

Dia menekankan, satu-satunya jalan keluar yang mungkin hanyalah melalui diplomasi dengan Iran. Saat ini, Macron juga disebut-sebut sedang berupaya merangkul negara-negara Eropa dan mitra internasional lainnya. Tujuannya: membentuk sebuah koalisi yang bisa menjamin kebebasan pelayaran di Selat Hormuz nantinya, setelah situasi konflik mereda.

Pentingnya selat ini memang tidak main-main. Letaknya yang diapit oleh Iran dan Semenanjung Arab menjadikannya urat nadi energi global. Sebelum konflik memuncak, hampir 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia mengalir melalui jalur sempit ini. Kini, aktivitas di sana praktis terhenti, membekukan salah satu jalur pelayaran paling vital di planet ini.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar