"Kita kan SOP-nya ada tim medis, tadi ada dari Taman Safari (TSI), ada dokternya juga. Kita nggak bisa sembarangan pakai obat bius," jelas Dani.
"Harus disesuaikan beratnya berapa. Dosisnya juga nggak boleh lebih," tegasnya.
Setelah berhasil diamankan, nasib sang macan kini sedikit lebih baik. Ia dibawa ke sebuah lembaga konservasi di Taman Safari untuk diperiksa dan dirawat.
"Kita lakukan perawatan, mungkin satu atau dua hari. Kalau kondisinya baik, kita lepasliarkan lagi ke habitatnya," kata Dani tentang rencana ke depan.
Namun begitu, satu pertanyaan besar masih menggantung: siapa yang berani memasang jerat itu? Aktivitas perburuan liar di kawasan konservasi kembali mencoreng upaya pelestarian. Kejadian ini jadi pengingat betapa tipisnya batas antara kehidupan liar dan manusia.
Artikel Terkait
Pelatih Arema Ungkap Alasan Taktik Bertahan Ketat Usai Imbang Lawan Malut United
Bareskrim Blokir 80 Rekening dan Periksa 90 Saksi dalam Kasus Dugaan Penipuan PT DSI Rp 2,4 Triliun
Satria Muda Pertamina Bandung Tumbangkan Rajawali Medan dalam Drama Tipis 89-87
Hujan dan Angin Kencang di Bandung Tewaskan Satu Orang, 33 Pohon Tumbang