Pertama, Brigjen TNI Dedi Hardono. Pria kelahiran Sulawesi Selatan, 30 Maret 1972 ini sekarang ditugaskan sebagai Kabinda Papua. Sebelumnya, karirnya sudah panjang dan berwarna. Dia pernah memimpin Batalyon Infanteri Raider 755/Yalet, lalu bertugas sebagai Asisten Intelijen di Kodam VI/Mulawarman.
Jabatannya terus naik. Sempat jadi Direktur Bina Fungsi Intelijen Kodiklatad, lalu Komandan Pusdik Intelijen. Tak lama memimpin teritorial sebagai Danrem di Papua, dia kemudian ditempatkan di STIN BIN sebelum akhirnya memegang kendali sebagai kepala intelijen daerah di Papua.
Pengalaman lapangannya juga banyak. Dedi pernah diterjunkan dalam berbagai operasi, dari Seroja, Aceh, hingga operasi perdamaian di Papua. Pendidikannya pun lengkap, mulai dari Seskoad, Sesko TNI, sampai Lemhannas RI.
Kedua, ada Brigjen TNI Fahmi Sudirman.
Dia kini menjabat sebagai Staf Ahli Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup di BIN. Informasi tentangnya memang tak sebanyak rekannya. Namun, yang pasti, Fahmi bukan nama baru di dunia intelijen. Sebelumnya dia adalah Agen Intelijen Ahli Madya yang membawahi wilayah Jawa dan Bali, dan pernah pula memimpin sebagai Kabinda Jawa Timur.
Penempatan dua perwira karir ini ke BIN jelas punya pesan. Di satu sisi, ini soal pembinaan karier seperti yang disampaikan juru bicara. Di sisi lain, kolaborasi antara TNI dan BIN di level taktis tampaknya akan semakin erat, terutama dalam menghadapi tantangan keamanan nasional yang semakin kompleks.
Artikel Terkait
Atap PAUD Ambruk di Pandeglang, Laporan Revitalisasi Sebelumnya Tak Digubris
Kebakaran Diduga Korsleting Hanguskan Ruang Guru SD di Bogor, Ujian Ditunda
BMKG Catat 422 Gempa Susulan Usai Gempa M 7,6 di Bitung
Gempa M 5,2 Guncang Maluku Utara, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami