Prajurit TNI Gugur dalam Serangan Artileri di Lebanon Selatan, Satu Personel Kritis

- Rabu, 01 April 2026 | 09:15 WIB
Prajurit TNI Gugur dalam Serangan Artileri di Lebanon Selatan, Satu Personel Kritis

Dari Banda Aceh, kabar duka datang dari Lebanon Selatan. Seorang prajurit TNI asal Kodam Iskandar Muda gugur dalam misi perdamaian PBB. Serangan artileri yang terjadi tiba-tiba itu juga membuat satu personel lainnya dalam kondisi kritis.

Menurut sejumlah saksi, insiden ini terjadi di Desa Achid Alqusayr, wilayah operasi UNIFIL. Serangan dengan intensitas tinggi itu langsung menghantam posisi pasukan Indonesia. Situasi di lapangan pun langsung memanas.

Pemerintah Republik Indonesia menyampaikan belasungkawa terdalam atas gugurnya satu personel penjaga perdamaian Indonesia dan luka yang dialami tiga lainnya.

Pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri itu disampaikan Selasa lalu.

Prajurit yang gugur adalah Praka Farizal Romadhon. Dia anggota Yonif 113/Jaya Sakti Brigif 25/Siwah Kodam Iskandar Muda, tergabung dalam Satgas Batalyon Mekanis Kontingen Garuda XXIII-S. Farizal dinyatakan meninggal dunia pada Senin malam, tepatnya pukul 20.44 waktu setempat.

Di sisi lain, satu prajurit lain bernama Praka Rico Pramudia dari Yonif 114/Satria Musara mengalami luka berat. Saat ini kondisinya masih sangat kritis. Rico sedang menjalani perawatan intensif di sebuah rumah sakit di Beirut.

Dari keterangan Kodam Iskandar Muda, serangan datang begitu mendadak. Ini terjadi di tengah eskalasi konflik yang memang sedang meningkat di wilayah perbatasan itu. Untuk sementara, seluruh personel TNI di sektor terdampak masih harus bertahan di bunker, waspada akan serangan lanjutan.

Namun begitu, koordinasi terus berjalan. Komando atas bersama unsur Satgas di lapangan dan pihak UNIFIL berupaya memantau situasi dan mendalami kronologi kejadian yang sebenarnya.

Pemerintah sudah memastikan satu hal: seluruh hak prajurit yang gugur maupun terluka akan dipenuhi. Semua sesuai ketentuan yang berlaku, tidak ada yang akan dikurangi.

Reaksi Indonesia pun tegas. Pemerintah mengecam keras insiden ini. Desakan untuk investigasi yang menyeluruh dan transparan disampaikan. Yang tak kalah penting, Indonesia menekankan lagi soal perlindungan bagi pasukan penjaga perdamaian itu adalah kewajiban di bawah hukum internasional.

Dalam pernyataannya, pemerintah juga menyerukan agar semua pihak menahan diri. Kedaulatan wilayah Lebanon harus dihormati.

Penghentian serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur menjadi poin krusial. Kembali ke jalur diplomasi, itulah satu-satunya jalan untuk mencegah situasi jadi lebih buruk.

Gugurnya Praka Farizal Romadhon tentu menjadi kehilangan yang dalam. Bukan hanya bagi keluarganya di Aceh atau rekan-rekannya di kesatuan, tapi juga bagi TNI dan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Dedikasinya dalam misi perdamaian dunia menunjukkan profesionalisme prajurit kita di kancah internasional. Sebuah pengabdian yang berakhir dengan pengorbanan tertinggi.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar