Malam itu, Stadion Gelora BJ Habibie bukan sekadar arena pertandingan sepak bola. Di kota kecil yang beberapa musim terakhir menjelma menjadi benteng kebanggaan Sulawesi Selatan, ribuan suporter datang membawa satu harapan: jangan biarkan pesta juara terjadi di rumah sendiri.
Duel pekan ke-33 Super League 2025/2026 antara PSM Makassar melawan Persib Bandung, Minggu (17/5/2026), terasa jauh lebih besar dari sekadar perebutan tiga poin. Ada harga diri, ada tekanan perebutan gelar, dan ada pula misi pribadi yang membuat pertandingan ini dipenuhi emosi sejak sebelum sepak mula.
PSM datang dengan suasana yang belum sepenuhnya tenang. Musim yang berjalan naik turun membuat Pasukan Ramang harus puas menjalani akhir kompetisi tanpa peluang juara. Namun justru karena itu, laga kandang terakhir musim ini menjadi kesempatan terakhir untuk menjaga kehormatan di depan publik Parepare.
Duet caretaker pelatih Ahmad Amiruddin dan legenda klub Zulkifli Syukur memahami betul arti pertandingan ini. Mereka tahu, kemenangan atas Persib bukan hanya soal klasemen, tetapi juga tentang mengembalikan kepercayaan diri tim sekaligus menjaga aura angker Stadion Gelora BJ Habibie.
Ada satu catatan yang terus menghantui PSM menjelang laga tersebut. Dalam lima pertemuan terakhir menghadapi Persib, mereka bahkan gagal mencetak satu gol pun. Terakhir kali PSM membobol gawang Maung Bandung terjadi pada 2023 saat menang meyakinkan 4-2 di Parepare. Statistik itu menjadi luka kecil yang terus dibicarakan.
Ahmad Amiruddin pun tidak menutupinya. Ia justru menjadikan catatan itu sebagai motivasi besar bagi anak asuhnya.
“Karena dari statistik lima pertemuan terakhir kami tidak pernah mencetak gol lagi ke gawang mereka. Mudah-mudahan besok pemain bisa kembali mencetak gol dan kita bisa akhiri pertandingan kandang dengan happy ending,” ujar Amiruddin.
Ucapan itu menggambarkan suasana hati PSM saat ini. Mereka bukan sekadar ingin menang, tetapi juga ingin mengakhiri kutukan yang terasa aneh bagi klub dengan tradisi menyerang seperti PSM.
Di sisi lain, Persib datang ke Parepare dengan tekanan yang berbeda. Tim asuhan Bojan Hodak masih menjaga asa juara Super League. Namun perjalanan menuju Parepare tidak sepenuhnya mulus. Bojan Hodak dipastikan absen mendampingi tim akibat akumulasi kartu kuning. Tugas memimpin tim dari bangku cadangan pun diserahkan kepada Igor Tolic. Situasi makin rumit karena beberapa pemain penting seperti Federico Barba dan Luciano Guaycochea juga tidak masuk skuad. Meski begitu, Persib tetap datang dengan kepercayaan diri tinggi. Mereka tahu satu kemenangan di Parepare bisa menjadi langkah penting menuju trofi juara.
Sorotan besar kemudian mengarah pada duel dua bomber Latin: Alex Tanque dan Ramon Tanque. Bagi Alex Tanque, pertandingan ini terasa sangat personal. Striker PSM itu akhirnya berhasil memecah kebuntuan gol musim ini setelah cukup lama berada dalam tekanan kritik. Laga melawan Persib menjadi kesempatan penting untuk membuktikan dirinya masih pantas dipertahankan musim depan. Sementara di kubu Persib, Ramon De Andrade Souza alias Ramon Tanque membawa ambisi yang tak kalah besar. Penyerang asal Brasil itu ingin menjadi bagian dari tim yang mampu menjaga peluang juara hingga pekan-pekan terakhir kompetisi.
Namun pertandingan ini bukan hanya tentang penyerang. Di jantung pertahanan PSM berdiri sosok yang paling banyak menyita perhatian: kapten tim, Yuran Fernandes. Bek jangkung asal Tanjung Verde itu datang ke pertandingan dengan membawa beban kritik publik. Meski demikian, Yuran memastikan semua suara di luar lapangan tidak menggoyahkan mentalitasnya.
“Noise atau keributan di luar tidak mempengaruhi saya sama sekali. Saya tidur nyenyak dan tetap memberikan yang terbaik,” tegas Yuran.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi cukup menggambarkan karakter Yuran sebagai pemimpin di lini belakang PSM. Di tengah tekanan musim yang berat, ia tetap berdiri sebagai figur yang ingin memastikan Pasukan Ramang tidak dipermalukan di kandang sendiri.
Secara taktikal, pertandingan diprediksi berlangsung keras sejak menit awal. PSM kemungkinan akan mengandalkan pressing agresif dan duel fisik melalui kombinasi Ananda Raehan, Resky Fandi, dan Savio di lini tengah. Intensitas permainan menjadi senjata utama mereka untuk merusak ritme Persib. Sementara Persib bertumpu pada kualitas distribusi bola Thom Haye serta pengalaman Marc Klok yang berpotensi dimainkan pada babak kedua. Kehadiran Ramon Tanque di depan juga menjadi ancaman serius lewat duel udara dan kemampuan menahan bola.
Namun satu duel yang paling dinantikan tentu bentrokan antara Yuran Fernandes dan Ramon Tanque. Yuran membawa misi menjaga harga diri PSM sekaligus membungkam kritik. Sedangkan Ramon datang dengan mimpi membantu Persib semakin dekat menuju gelar juara.
Atmosfer Parepare diyakini akan menjadi faktor penting. Suporter PSM memahami betul arti pertandingan ini. Mereka tidak ingin laga kandang terakhir musim berubah menjadi panggung perayaan tim tamu. Dalam situasi seperti itu, sepak bola sering kali melampaui urusan taktik dan statistik. Ada emosi yang bermain. Ada kebanggaan yang dipertaruhkan. Dan ketika peluit pertama dibunyikan di Stadion Gelora BJ Habibie malam nanti, pertandingan ini mungkin akan menjadi salah satu duel paling emosional di penghujung musim Super League 2025/2026.
Artikel Terkait
PTMP Lepas 77,19% Saham PTMR ke Investor Singapura Senilai Rp128,1 Miliar
Wamen Sosial Tinjau Pembangunan Sekolah Rakyat di Brebes, Target Beroperasi Juni 2026
Leo/Daniel Juara Thailand Open 2026, BNI Apresiasi Kebangkitan Bulu Tangkis Indonesia
Kemenag Pantau Hilal di 88 Titik, Awal Dzulhijjah 1447 H Diprediksi 18 Mei 2026