Pernyataan Garda Revolusi itu jelas merasa kesal. Mereka menuding pemerintah AS dan para raksasa teknologi telah mengabaikan peringatan untuk menghentikan operasi yang membidik pejabat tinggi Iran. Perusahaan-perusahaan teknologi itu dituding sebagai "elemen utama" dalam merancang dan melacak target pembunuhan.
Akibatnya, selain nama-nama tadi, perusahaan seperti Oracle, Palantir, dan Nvidia pun ikut masuk daftar hitam. Intinya, siapa pun yang dianggap aktif terlibat dalam rencana yang mereka sebut teroris, akan menghadapi pembalasan.
Semua ini berawal dari serangan AS dan Israel yang dimulai akhir Februari 2026. Hari pertama perang sudah menelan korban penting: Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dan panglima Garda Revolusi Mohammad Pakpour tewas. Targetnya jelas, melumpuhkan seluruh jajaran kepemimpinan Iran.
Ali Larijani, kepala keamanan yang berpengaruh, juga sudah menjadi korban. Banyak tokoh kunci lainnya menyusul.
Israel dan AS tentu mengklaim telah memberikan pukulan telak. Tapi ceritanya tak berhenti di situ. Beberapa pengamat justru melihat Iran punya ketahanan yang kuat. Kemampuan mereka untuk bangkit dari kemunduran seperti ini, kata para analis, jangan diremehkan.
Artikel Terkait
Kemnaker Tegaskan Aturan Kerja di Hari Libur dan Hak Upah Lembur Pekerja
Netanyahu Tegaskan Perang dengan Iran Berlanjut, Abaikan Sinyal Damai dari Teheran
UNTR Gelar Buyback Saham Senilai Rp 2 Triliun untuk Dukung Stabilitas Pasar
Impack Pratama Lampaui Target, Laba Bersih Naik 15% di Tengah Tantangan Global