“Ini menunjukkan cita-cita besar peradaban modern belum sepenuhnya tercapai,” tutur Haedar.
“Sekecil apa pun peran kemanusiaan tetap penting untuk menjaga peradaban,” imbuhnya, menekankan bahwa kontribusi sekecil apapun tetap punya arti.
Lalu, di tengah kondisi dunia yang carut-marut, bagaimana posisi Indonesia? Haedar kembali menegaskan komitmen Muhammadiyah. Organisasi ini akan tetap berpegang pada keputusan Tanwir Makassar 2015. Pancasila adalah konsensus final, darul ahdi wa syahadah, tempat bermuara segala ikrar dan kesaksian kebangsaan.
Artinya, Muhammadiyah tak akan bergeser dari garis perjuangan menjaga Negara Pancasila. Nilai-nilai kebangsaan, agama, dan kebudayaan harus tetap dijaga bersama.
“Indonesia sebagai negara dengan dasar Pancasila harus kita jaga sebagai hasil konsensus nasional,” serunya.
Ia menambahkan, peran Muhammadiyah ke depan harus tetap signifikan. Bukan hanya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, tapi juga dalam bekerja sama dengan semua pihak. Tujuannya jelas: mengawal bangsa menuju Indonesia yang benar-benar bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Itu janji yang harus dipegang.
Artikel Terkait
Kemnaker Tegaskan Aturan Kerja di Hari Libur dan Hak Upah Lembur Pekerja
Netanyahu Tegaskan Perang dengan Iran Berlanjut, Abaikan Sinyal Damai dari Teheran
UNTR Gelar Buyback Saham Senilai Rp 2 Triliun untuk Dukung Stabilitas Pasar
Impack Pratama Lampaui Target, Laba Bersih Naik 15% di Tengah Tantangan Global