Kalau Selat Hormuz tidak segera "Dibuka untuk Bisnis", ancamnya, AS akan "meledakkan dan menghancurkan sepenuhnya semua Pembangkit Listrik, Sumur Minyak, dan Pulau Kharg (dan mungkin semua pabrik desalinasi!)".
Meski begitu, Trump terlihat optimis kesepakatan akan tercapai. Persiapan terus berjalan, termasuk dengan mengerahkan ribuan pasukan tambahan ke Timur Tengah dalam sepekan terakhir. Persiapan untuk operasi darat, katanya.
Namun begitu, banyak analis menduga langkah itu lebih sebagai bentuk tekanan. Upaya untuk memaksa Teheran menyetujui syarat-syarat yang diajukan Washington.
Kendala utamanya, seperti dilaporkan New York Times, adalah kekosongan kepemimpinan di Iran. Serangan AS dan Israel sejak perang meletus akhir Februari lalu telah menewaskan puluhan pejabat tinggi. Akibatnya, kemampuan Iran untuk mengambil keputusan penting jadi lumpuh.
Yang repot, ini juga mempersulit proses negosiasi. Para negosiator dari Iran yang masih bertahan mungkin tidak punya wewenang penuh, atau pengetahuan yang cukup tentang batas konsesi yang bisa diberikan pemerintah mereka. Jadi ya, negosiasi berjalan di tempat, seperti masuk labirin tanpa ujung.
Artikel Terkait
Tim Hukum Klaim Identifikasi 16 Pelaku Penyiraman Air Keras ke Aktivis Andrie Yunus
Indodax Raih Dua Penghargaan Platform Kripto Terpercaya 2026
PBB Kecam RUU Hukuman Mati Israel, Sebut Kejam dan Diskriminatif
Gejolak Iran Ancam Rantai Pasok Industri, Harga BBM Dijamin Tak Naik