"Para menteri ini lebih banyak menunggu arahan dari presiden. Misalnya mencari energi selain dari Timur Tengah," jelas dia memberi contoh.
Nah, karena itulah dia nyaranin Prabowo buat evaluasi. Momen krisis kayak sekarang ini justru saat yang tepat.
"Karena itu, saat krisis saat ini, ada baiknya Prabowo mengevaluasi para menterinya," usul Jamiluddin.
"Para menteri yang hanya menunggu petunjuk sudah saatnya diganti," sambungnya tanpa ragu.
Menteri yang dianggap lemah dalam menyelesaikan masalah mesti diganti. Jamiluddin khawatir, kalau dibiarkan, mereka malah jadi beban buat kabinet secara keseluruhan.
"Jadi, di saat krisis energi ini seyogyanya Prabowo dapat menilai para menterinya," pungkasnya.
"Menteri yang lemah "problem solving" sudah saatnya di "reshuffle". Sebab menteri seperti ini hanya menjadi beban bagi Prabowo."
Pesan dia jelas. Di tengah badai ketidakpastian, Indonesia butuh nahkoda-nahkoda tangguh di setiap departemen, bukan penumpang yang cuma bisa duduk manis.
Artikel Terkait
Indonesia Desak PBB Selidiki Kematian Tiga Prajurit TNI di Lebanon
Kemnaker Tegaskan Aturan Kerja di Hari Libur dan Hak Upah Lembur Pekerja
Netanyahu Tegaskan Perang dengan Iran Berlanjut, Abaikan Sinyal Damai dari Teheran
UNTR Gelar Buyback Saham Senilai Rp 2 Triliun untuk Dukung Stabilitas Pasar