Israel Perluas Operasi ke Lebanon Selatan, Serang Fasilitas Nuklir Iran

- Selasa, 31 Maret 2026 | 15:30 WIB
Israel Perluas Operasi ke Lebanon Selatan, Serang Fasilitas Nuklir Iran

Sudah genap sebulan konflik di Timur Tengah berkecamuk. Langit Beirut kembali gemuruh Jumat lalu, 27 Maret, diterangi oleh rentetan serangan Israel. Rupanya, ini bukan sekadar serangan balasan biasa. Israel punya rencana lebih jauh: menduduki sebagian wilayah Lebanon selatan untuk dijadikan "zona penyangga". Tujuannya jelas, untuk membentengi diri dari ancaman Hezbollah. Bahkan, warga setempat sudah diperingatkan untuk mengungsi dari sekitar 15% wilayah negara itu.

Namun begitu, sasaran Israel ternyata tak cuma di Beirut. Pada hari yang sama, fasilitas nuklir Iran juga jadi target. Esok harinya, Sabtu, giliran beberapa wilayah di Teheran yang merasakan dahsyatnya serangan udara. Agresi ini seperti tak mau berhenti.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, bersikap keras. Ia menegaskan bahwa peringatan sebelumnya pada Iran diabaikan.

"Saya bersama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah memperingatkan rezim teroris Iran untuk menghentikan penembakan rudal ke warga sipil Israel. Meski telah diperingatkan, serangan masih berlanjut, sehingga operasi militer Israel di Iran akan ditingkatkan dan diperluas. Mereka akan membayar harga yang mahal dan terus meningkat atas kejahatan perang ini,"

Seruan Katz sepertinya langsung dijawab. Dini hari Sabtu, rudal-rudal Iran melintasi langit Israel. Beberapa bangunan dan kendaraan dilaporkan rusak. Yang menarik, konflik kini makin meluas. Kelompok Houthi dari Yaman sekutu Iran untuk pertama kalinya mengaku ikut menembakkan rudal ke Israel. Meski klaim dicegat, langkah ini menandai resminya mereka terjun dalam peperangan.

Di sisi lain, Amerika Serikat tak tinggal diam. Militer AS merilis video serangan terhadap fasilitas yang diduga milik Iran. Pemerintahan Donald Trump berdalih operasi ini untuk melemahkan kekuatan militer Tehran: mulai dari menenggelamkan angkatan lautnya, menghancurkan kemampuan rudal dan drone, hingga memastikan Iran tak pernah punya senjata nuklir.

Seorang pejabat AS yang enggan disebut namanya bercerita pada Reuters. Katanya, saat Iran menyerang Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi, dua belas tentara AS terluka. Dua di antaranya kondisi serius.

Presiden Trump sendiri terlihat bermain dua kaki. Di satu sisi, ia mengancam akan mengambil langkah tambahan. Ia bahkan menyebut Iran pernah menembak rudal ke kapal induk USS Abraham Lincoln, untungnya bisa dicegat. "Sistem pertahanan udara Iran sudah sangat melemah," ujarnya. Tapi di sisi lain, ia masih memperpanjang penangguhan serangan terhadap fasilitas energi Iran. Gencatan senjata diperpanjang 10 hari hingga 6 April. "Negosiasi berjalan dengan baik," katanya penuh harap.

Lalu bagaimana perkembangan di lapangan? Menurut Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, operasi militer ini diprediksi berakhir dalam hitungan minggu, bukan bulan. Ia juga geram dengan rencana sebagian pejabat Iran yang mau memungut biaya permanen di Selat Hormuz. "Itu tak bisa diterima dan harusnya bikin dunia marah," tegasnya.

Nyatanya, persiapan tempur AS justru menguat. Dari sumber yang mengetahui situasi, Trump memerintahkan sekitar 2.000 tentara dari Divisi Lintas Udara ke-82 dikirim ke Timur Tengah. Belum lagi dua unit ekspedisi Marinir dengan total 5.000 personel yang diperkirakan tiba dalam beberapa hari ke depan.

Sementara kapal induk terbesar mereka, USS Gerald R. Ford, berlabuh di Kroasia untuk perawatan. Kapal raksasa dengan lebih dari 5.000 awak dan 75 pesawat tempur ini sebelumnya terlibat misi "Epic Fury" di Laut Merah.

Di tengah semua ini, ada secercah harapan diplomasi. Pakistan bersiap menjadi tuan rumah pertemuan penting pada Minggu, 29 Maret. Arab Saudi, Turkiye, dan Mesir akan hadir untuk membahas perang ini. Bahkan, Pakistan berharap bisa jadi tempat negosiasi langsung antara AS dan Iran. Mampukah dialog menghentikan bisingnya peluru?

Di pelabuhan Kandla, India barat, sebuah kapal tanker bernama "Jag Vasant" membawa 47.000 ton gas merapat dengan tenang pada Sabtu itu. Dunia mungkin sedang berperang, tapi kehidupan dan perdagangan harus terus berjalan. Entah sampai kapan.

Dilaporkan dari lokasi oleh Liu Jiajia.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar