Sudah genap sebulan konflik di Timur Tengah berkecamuk. Langit Beirut kembali gemuruh Jumat lalu, 27 Maret, diterangi oleh rentetan serangan Israel. Rupanya, ini bukan sekadar serangan balasan biasa. Israel punya rencana lebih jauh: menduduki sebagian wilayah Lebanon selatan untuk dijadikan "zona penyangga". Tujuannya jelas, untuk membentengi diri dari ancaman Hezbollah. Bahkan, warga setempat sudah diperingatkan untuk mengungsi dari sekitar 15% wilayah negara itu.
Namun begitu, sasaran Israel ternyata tak cuma di Beirut. Pada hari yang sama, fasilitas nuklir Iran juga jadi target. Esok harinya, Sabtu, giliran beberapa wilayah di Teheran yang merasakan dahsyatnya serangan udara. Agresi ini seperti tak mau berhenti.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, bersikap keras. Ia menegaskan bahwa peringatan sebelumnya pada Iran diabaikan.
Seruan Katz sepertinya langsung dijawab. Dini hari Sabtu, rudal-rudal Iran melintasi langit Israel. Beberapa bangunan dan kendaraan dilaporkan rusak. Yang menarik, konflik kini makin meluas. Kelompok Houthi dari Yaman sekutu Iran untuk pertama kalinya mengaku ikut menembakkan rudal ke Israel. Meski klaim dicegat, langkah ini menandai resminya mereka terjun dalam peperangan.
Di sisi lain, Amerika Serikat tak tinggal diam. Militer AS merilis video serangan terhadap fasilitas yang diduga milik Iran. Pemerintahan Donald Trump berdalih operasi ini untuk melemahkan kekuatan militer Tehran: mulai dari menenggelamkan angkatan lautnya, menghancurkan kemampuan rudal dan drone, hingga memastikan Iran tak pernah punya senjata nuklir.
Seorang pejabat AS yang enggan disebut namanya bercerita pada Reuters. Katanya, saat Iran menyerang Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi, dua belas tentara AS terluka. Dua di antaranya kondisi serius.
Presiden Trump sendiri terlihat bermain dua kaki. Di satu sisi, ia mengancam akan mengambil langkah tambahan. Ia bahkan menyebut Iran pernah menembak rudal ke kapal induk USS Abraham Lincoln, untungnya bisa dicegat. "Sistem pertahanan udara Iran sudah sangat melemah," ujarnya. Tapi di sisi lain, ia masih memperpanjang penangguhan serangan terhadap fasilitas energi Iran. Gencatan senjata diperpanjang 10 hari hingga 6 April. "Negosiasi berjalan dengan baik," katanya penuh harap.
Artikel Terkait
Komandan Pasukan Quds Klaim Aksi Yaman Paksa Kapal Induk AS Mundur
Leonardi Bantah Tuduhan Rugikan Negara Rp 306,8 Miliar di Kasus Satelit
DPR Soroti Data Amburadul Hambat Penanganan Bencana dan Bansos
Zulkifli Hasan Kritik Serangan AS-Israel ke Iran dan Soroti Dampak Krisis Global