Bayangkan saja, Andrie baru berusia 27 tahun. Di usia yang seharusnya penuh dengan potensi dan harapan, kini dia menghadapi ancaman kehilangan penglihatan secara permanen. KontraS pun bersikeras, negara wajib turun tangan. Korban seperti Andrie bukan hanya statistik, melainkan aset bangsa yang masa depannya sedang diujung tanduk.
“Di sini saya mau menekankan bahwa ada upaya untuk merusak generasi muda,” tegas Dimas.
Dia melanjutkan dengan nada yang berat, “Andrie saat ini 27 tahun, 16 Juni nanti 28 tahun dan saya rasa ini hal yang biadab, hal yang tak bisa dibenarkan, menyerang anak muda yang menjadi aset republik ini.”
Perkataannya menggambarkan sebuah kegelisahan yang mendalam. Di balik laporan medis yang dingin, tersimpan sebuah narasi pilu tentang kekerasan yang mengancam bukan hanya satu orang, tetapi juga masa depan yang seharusnya bisa dia wujudkan.
Artikel Terkait
Kuwait Tuduh Iran Serang Kapal Tanker Minyaknya di Dekat Dubai
Empat Tersangka Penganiayaan Aktivis KontraS Ditahan di Sel Maksimum Pomdam Jaya
Bareskrim Ungkap Perdagangan Emas Ilegal Senilai Rp 25,9 Triliun dari Kalbar hingga Papua
PATRIA Undang Dirjen Bimas Katolik dan Presiden untuk Pelantikan dan Refleksi Nasional