Kalau dibandingkan dengan angka nasional, posisi Jabar memang lebih baik. Rata-rata nasional sendiri berada di angka 77,89. Artinya, tingkat kerukunan di tanah Pasundan ini sedikit lebih unggul.
Lantas, apa yang memengaruhi capaian ini? Faktornya beragam. Mulai dari kondisi sosial masyarakatnya sendiri, sampai pada kebijakan-kebijakan yang digulirkan pemda. Program pembinaan untuk lembaga-lembaga keagamaan, ditambah aneka kegiatan lintas iman, nyata-nyata berkontribusi menjaga harmoni itu tetap hidup.
Peran Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) juga tak bisa dianggap sepele. Keberadaannya, dari level provinsi hingga kota dan kabupaten, aktif menjaga stabilitas. Mereka jadi jembatan komunikasi yang efektif antar umat beragama.
Yang tak kalah penting adalah interaksi sehari-hari. Masyarakat dengan latar belakang agama berbeda ternyata cukup intens berbaur. Interaksi sosial alami ini, rupanya, jadi perekat kebersamaan yang ampuh. Ia memperkuat rasa saling percaya dan pada akhirnya mendongkrak kualitas kerukunan itu sendiri.
Namun begitu, pemprov Jabar tampaknya tak mau berpuas diri. Berbagai kebijakan terus didorong untuk memperkuat harmoni sosial. Tujuannya jelas: menjaga stabilitas yang sudah terbangun agar bisa berkelanjutan. Kerukunan, bagaimanapun, adalah modal sosial yang paling berharga.
Artikel Terkait
Kebakaran Pabrik Helm di Bogor Belum Sepenuhnya Padam, Titik Api di Gudang Bahan Kimia Jadi Sorotan
Serangan Drone di Dilling Tewaskan 14 Warga Sipil, Hancurkan Delapan Rumah
Prabowo Kutuk Penyimpangan Oknum Negara dalam Kasus Penyegelan Aspirasi
Istri AHY, Annisa Pohan, Melahirkan Anak Kedua Laki-laki di RSPI