"Kita sekarang berurusan dengan orang-orang yang berbeda dari yang pernah dihadapi sebelumnya," ucap Trump kepada awak media di dalam Air Force One.
Meski pertempuran masih panas, Trump mengaku "cukup yakin" sebuah kesepakatan damai tetap bisa dicapai.
Pakistan sebagai Mediator?
Di tengah ketegangan, muncul kabar mengejutkan dari Pakistan. Negeri itu mengumumkan kesediaannya menjadi tuan rumah pembicaraan damai antara Washington dan Tehran.
Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, menyebut kedua negara yang bertikai telah meminta negaranya untuk memfasilitasi negosiasi. Konflik ini sendiri sudah berlangsung sekitar sebulan.
"Pakistan merasa terhormat untuk menjadi tuan rumah dan memfasilitasi pembicaraan yang bermakna antara kedua belah pihak dalam beberapa hari ke depan, demi penyelesaian komprehensif dan berkelanjutan," kata Dar.
Namun begitu, detailnya masih samar. Belum ada konfirmasi dari AS maupun Iran, dan juga belum jelas apakah pertemuan akan dilakukan secara langsung atau melalui perantara.
Pakistan muncul sebagai mediator yang tak terduga. Mereka sepertinya memanfaatkan hubungannya yang relatif baik dengan kedua kubu, plus diplomasi diam-diam yang telah dijalankan selama berminggu-minggu.
Tapi di Tehran, rencana ini disambut dengan skeptis. Ketua parlemen Iran meragukan niat baik ini dan menyebutnya sebagai "kedok". Kecurigaannya makin menjadi setelah sekitar 2.500 marinir AS dilaporkan tiba di kawasan.
Dia juga mengingatkan bahwa pasukan Iran sudah siaga penuh. Mereka siap menghadapi pasukan AS dan, jika perlu, menghukum sekutu-sekutunya di wilayah tersebut.
Artikel Terkait
Kecelakaan Maut di Bogor, Pengendara Motor Tewas Tertabrak Gran Max
Prabowo Tegaskan Indonesia Tak Pernah Gagal Bayar Utang di Forum Bisnis Jepang
Videografer Dituntut Korupsi Rp202 Juta dari Proyek Video Profil Desa Terdampak Sinabung
Komisi Yudisial Buka Pendaftaran Calon Hakim Agung dan Hakim Ad Hoc MA