Di dataran tinggi Karo, tepatnya di Kecamatan Naman Teran, ada sebuah desa bernama Sigarang Garang. Desa ini termasuk salah satu yang tertinggi di kabupaten itu, dengan ketinggian mencapai 1.347 meter di atas permukaan laut. Pemandangannya? Langsung menghadap ke sisi utara Gunung Sinabung yang perkasa dan aktif.
Seperti banyak wilayah di lereng gunung berapi, tanah di sini sangat subur. Naman Teran sendiri dikenal sebagai salah satu lumbung hortikultura Karo. Data Badan Pusat Statistik Karo mencatat produksi cabai keriting di sini mencapai puluhan ribu kuintal pada 2024. Belum lagi aneka sayuran seperti kentang, wortel, hingga kembang kol yang rutin dikirim untuk memenuhi kebutuhan wilayah Sumatera Utara.
Namun begitu, cerita tentang kesuburan itu sempat terpotong tragis.
Erupsi Sinabung pada akhir 2013 hingga awal 2014 mengubah segalanya. Keasrian desa-desa di lerengnya luluh lantak. Sigarang Garang termasuk yang terparah dilanda. Abu vulkanik tebal menyelimuti segala sesuatu: rumah, jalan, dan tentu saja, ladang-ladang hijau yang menjadi nafkah warga. Ribuan orang terpaksa mengungsi, meninggalkan desa yang seketika berubah sunyi bak kota mati.
Kesan sendu itulah yang coba diabadikan oleh videografer Amsal Sitepu. Dalam sebuah video yang diunggah di Instagram pada Maret 2026, ia menampilkan profil Desa Sigarang Garang pasca-erupsi. Warna videonya redup, menggambarkan rumah-rumah rusak yang ditinggalkan, bebatuan besar berserakan, dan diiringi nyanyian pilu seorang perempuan tua. Video itu bagian dari proyek pembuatan video profil desa-desa di Karo yang ia kerjakan antara 2019 hingga 2022.
Melalui akun yang kini dikelola istrinya, Lovia Sianipar, dijelaskan bahwa biaya produksi untuk setiap video desa saat itu disepakati sebesar Rp30 juta.
Namun, proyek kreatif itu belakangan justru memunculkan masalah hukum. Sejak 2025, Amsal Christy Sitepu begitu nama lengkapnya resmi ditetapkan sebagai tersangka. Dia didakwa melakukan mark up anggaran dalam proyek video tersebut, yang disebut merugikan keuangan negara hingga Rp202 juta. Pria yang menjabat sebagai Direktur CV Promiseland ini membantah tuduhan itu.
Lewat unggahan di akun Instagramnya, Amsal menyatakan telah mengajukan proposal penawaran ke puluhan desa. Harganya jelas tercantum: Rp30 juta per video.
“Di tahun 2020, dari 30 proposal yang ditawarkan hanya 13 desa yang menerima penawaran lewat proposal yang diajukan,”
Begitu penjelasan yang tertulis. Pembayaran, menurutnya, dilakukan setelah video selesai dan diserahkan kepada pemerintah desa. Jadi, semuanya berdasarkan kesepakatan.
Di sisi lain, jaksa dalam persidangan punya hitungan berbeda. Mereka bersandar pada perhitungan ahli dari Inspektorat Kabupaten Karo, yang menyatakan biaya produksi yang wajar hanya sekitar Rp24,1 juta per desa. Beberapa komponen, seperti konsep ide hingga editing, dianggap seharusnya tidak dibebankan. Selisihnya sekitar Rp5,9 juta per video.
Atas dasar selisih itulah, Amsal akhirnya berhadapan dengan dakwaan korupsi. Kasus ini masih berjalan, sementara video profil Sigarang Garang dengan segala kesedihan visualnya tetap menjadi saksi bisu sebuah desa yang pernah tertimpa musibah, dan seorang kreator yang kini berurusan dengan hukum.
Artikel Terkait
Dusun Krajan Banjarnegara Kurban 52 Sapi dan 339 Kambing, Warga Gotong Royong Jadi RPH Dadakan
Selebgram Woodyrman Ditetapkan sebagai Tersangka Penganiayaan yang Tewaskan WNA Brunei
Masjid At Taqwa Bekasi Gunakan Alat Perebah Sapi Rakitan Sendiri untuk Kurban Iduladha
Siswa SMP di Bandar Lampung Nekat Tusuk Teman karena Kerap Dibully, Polisi Dalami Kasus