Ia menyebut perlunya fasilitas pendukung. Auditorium, pemutaran film 3D, atau ruang pertunjukan seni budaya bisa jadi cara untuk menghidupkan pembelajaran. Harapannya, museum bisa lebih inklusif dan menarik bagi semua kalangan.
Di sisi lain, perjalanan penelitian di sini memang sudah sangat panjang. Rentang waktunya mencakup era kolonial, dengan nama seperti Von Koenigswald, hingga diteruskan oleh arkeolog Indonesia macam R.P. Suyono. Kerja keras puluhan tahun itulah yang kini coba dikemas menjadi narasi edukatif bagi pengunjung biasa.
Menutup kunjungan, Fadli Zon menegaskan komitmennya. Ia ingin Museum Song Terus berkembang menjadi kantong budaya yang aktif dan berkelanjutan. Bukan cuma melestarikan, tapi juga memanfaatkan warisan itu untuk pembelajaran masyarakat luas.
Sebagai catatan, museum ini dibangun untuk mengangkat hasil penelitian di kawasan karst Pacitan yang telah berlangsung beberapa dekade. Situsnya sendiri termasuk sangat penting dalam kajian prasejarah nasional. Temuan alat batu, sisa fauna, dan bukti aktivitas manusia menunjukkan hunian yang berkelanjutan. Lokasinya juga masuk dalam bentang alam Gunung Sewu yang punya nilai ilmiah dan budaya tinggi.
Tampak mendampingi menteri dalam kesempatan itu, Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji. Turut hadir juga Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, serta Sekretaris Direktorat Jenderal Wawan Yogaswara.
Artikel Terkait
Gus Ipul Minta Kepala Desa Hidupkan Puskesos untuk Perkuat Data Bansos
DPRD Nagekeo Desak Kajian Ahli Geologi Atasi Retakan Lereng di Keo Tengah
Kepala Otorita IKN Ungkap Kenyamanan Tinggal dan Rencana Kantor Wapres di Ibu Kota Baru
Arus Balik Lebaran 2026, KA Bandara Yogyakarta Catat Rekor 12.000 Penumpang dalam Sehari