Di sisi lain, nilai tukar rupiah ikut tertekan. Mata uang kita melemah 0,45% ke posisi Rp 16.980 per dolar AS. Meski begitu, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun masih bertahan di level 6,86%.
Nah, pekan ini jadi momen krusial. Pelaku pasar matanya tertuju ke dua hal. Pertama, tentu pidato Ketua The Fed Jerome Powell. Kedua, adalah rilis data ekonomi AS yang bisa pengaruhi arah suku bunga global. Dari dalam negeri, data inflasi dan neraca perdagangan juga ditunggu, plus sinyal kebijakan fiskal pemerintah. Kombinasi semua faktor ini berpotensi nambah beban buat rupiah, pasar obligasi, dan tentu saja IHSG.
Ekspektasi pasar pun berubah drastis. Optimisme soal pemotongan suku bunga The Fed tahun ini makin pupus. Kecemasan investor jelas terlihat dari lonjakan indeks VIX yang naik lebih dari 13%. Di dalam negeri, indikator risiko seperti Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun juga naik, menunjukkan persepsi risiko yang membesar.
Jadi, sederhananya, pasar lagi dihantam tiga badai sekaligus: geopolitik memanas, harga energi melonjak, dan kebijakan moneter global yang belum jelas arahnya. Volatilitas tinggi masih akan jadi menu utama dalam jangka pendek.
Tapi nggak semuanya suram. Peluang untuk ‘rebound’ teknis atau ‘relief rally’ masih ada, terutama kalau ketegangan geopolitik mereda. Di tengah kondisi seperti ini, yang paling bijak ya tetap waspada. Perhatikan dinamika global dan pilih strategi investasi yang lebih selektif. Jangan gegabah.
Artikel Terkait
Gubernur Jateng Kumpulkan Seluruh Kepala Daerah Tandatangani Pakta Integritas Anti-Korupsi
Wali Kota Cilegon Tegaskan Evaluasi Tegas untuk ASN dan Honorer yang Tak Disiplin
Anggota DPR M. Husni Salurkan Bantuan ke Korban Kebakaran di Medan Amplas
Menteri Hukum dan HAM Tegaskan Transparansi dalam Kasus Korupsi Videografer Karo