Angka kematian akibat kanker payudara di Indonesia ditargetkan turun 2,5 persen setiap tahun. Target ambisius itu diumumkan Kementerian Kesehatan dalam sebuah forum belum lama ini. Untuk mencapainya, pemerintah kini menyosialisasikan Rencana Aksi Nasional atau RAN Kanker Payudara untuk periode 2025 hingga 2034. Rencana ini sekaligus jadi upaya Indonesia mengejar standar yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Intinya, RAN ini diharapkan bisa jadi panduan bersama agar semua pihak bergerak lebih cepat dan terarah. Tanpa arah yang jelas, mustahil target itu bisa dicapai.
Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, mengakui adanya kesenjangan yang lebar antara negara kaya dan berkembang dalam hal ini. Menurutnya, angka kematian di negara-negara berpendapatan tinggi sudah jauh menurun.
Di sisi lain, data di dalam negeri sendiri memperlihatkan gambaran yang memprihatinkan. Siti Nadia Tarmizi, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes, membeberkan angka-angka yang menunjukkan betapa banyak pasien yang ‘hilang’ di tengah jalan.
Jadi, masalahnya kompleks. Bukan cuma soal fasilitas, tapi juga keraguan masyarakat untuk memeriksakan diri dan sistem rujukan yang belum solid. Nah, RAN Kanker Payudara ini disusun dengan berpedoman pada tiga pilar inisiatif global WHO. Pertama, mendorong 60% pasien terdiagnosis pada stadium awal. Kedua, memastikan diagnosis pasti bisa didapat dalam 60 hari sejak gejala muncul. Dan ketiga, mengupayakan lebih dari 80% pasien bisa menjalani pengobatan tuntas, mencakup operasi, radiasi, atau kemoterapi.
Artikel Terkait
Kapolri Ungkap Penurunan Kecelakaan Lalu Lintas, Namun Jam 09.00-12.00 Tetap Rawan
Prabowo Panggil Menteri ESDM Bahas Antisipasi Dampak Penutupan Selat Hormuz
Air Kelapa Muda, Minuman Rehidrasi Alami yang Cocok untuk Berbuka Puasa
DEN: Ketegangan Timur Tengah Berpotensi Picu Lonjakan Harga Minyak Global