Sudah genap sebulan konflik bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran berkecamuk. Hingga detik ini, belum terlihat secercah harapan perdamaian atau titik terang untuk mengakhiri pertikaian ini.
Semuanya berawal dari sebuah serangan dahsyat yang dilancarkan AS dan Israel pada akhir Februari lalu, tepatnya 28 Februari 2026. Serangan itu bukan hanya menghancurkan target-target militer, tetapi juga merenggut nyawa pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Peristiwa inilah yang kemudian memicu spiral balas dendam yang tak berkesudahan.
Iran tak tinggal diam. Mereka membalas dengan keras, meluncurkan serangan ke wilayah Israel dan berbagai fasilitas militer AS yang tersebar di negara-negara Teluk. Situasi makin runyam ketika Teheran memberlakukan kontrol ketat di Selat Hormuz. Langkah strategis ini langsung berimbas pada pasar global: harga minyak melambung tinggi, membuat banyak negara ketar-ketir.
Korban jiwa, sayangnya, terus berjatuhan dari hari ke hari. Menurut laporan dari Al-Jazeera, di pihak Iran saja korban tewas sudah menembus angka lebih dari 1.900 orang. Yang terluka bahkan mencapai puluhan ribu, tepatnya lebih dari 24.800 orang, semua akibat gempuran AS dan Israel.
Artikel Terkait
Ganjil-Genap Kembali Berlaku di Jakarta Usai Libur Lebaran
Arus Balik Liburan Picu Kemacetan Parah di Sejumlah Ruas Tol Jakarta
Iran Sebut Serangan AS-Israel Sebabkan Pemadaman Listrik Besar di Teheran
Nasib Ribuan PPPK Terancam Imbas Kebijakan Efisiensi Anggaran