"Akibatnya, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa abad, Kepala Gereja dicegah untuk merayakan Misa Minggu Palma di Gereja Makam Suci," bunyi pernyataan mereka, yang juga dikutip AFP pada Minggu (29/3). Mereka menambahkan, insiden ini mengabaikan perasaan miliaran umat di seluruh dunia yang tengah menantikan Yerusalem pada minggu suci ini.
Sampai berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari kepolisian Israel. Memang, sejak perang di kawasan itu meledak pada akhir Februari lalu, otoritas setempat memberlakukan larangan pertemuan besar baik di sinagoge, gereja, maupun masjid. Pertemuan publik dibatasi maksimal sekitar 50 orang saja. Atas dasar itulah, prosesi Minggu Palma tradisional yang biasanya ramai dari Bukit Zaitun ke Yerusalem terpaksa dibatalkan.
Namun begitu, pihak gereja merasa langkah Israel kali ini keterlaluan.
"Para pemimpin gereja telah bertindak dengan penuh tanggung jawab dan, sejak awal perang, telah mematuhi semua pembatasan yang diberlakukan. Mencegah masuknya Kardinal dan Custos, yang memikul tanggung jawab gerejawi tertinggi, merupakan tindakan yang jelas tidak masuk akal dan sangat tidak proporsional," protes Patriarkat.
Mereka menilai sikap Israel terburu-buru dan cacat nalar. Tindakan itu dinilai telah menyimpang jauh dari prinsip kewajaran, kebebasan beribadah, dan penghormatan terhadap status quo yang selama ini dijaga. Sebuah preseden buruk yang, sayangnya, sudah terlanjur terjadi.
Artikel Terkait
Iran Klaim Hancurkan Pesawat Mata-Mata AS di Arab Saudi, Washington Belum Konfirmasi
KemenHAM DKI Pantau Kondisi Korban Penyiksaan Kimia, KPK Temukan Wanprestasi Lelang
Prabowo Janjikan Hunian Layak Usai Blusukan ke Bantaran Rel Senen
Presiden Prabowo Tandatangani Buku Diaspora Indonesia di Tokyo