Namun begitu, di balik krisis ini, Norde melihat sebuah peluang. Dia berpendapat situasi saat ini justru bisa mendorong percepatan investasi ke arah energi yang lebih bersih. Kekhawatiran lama soal mahalnya teknologi hijau untuk pelayaran, kini terlihat kecil dibandingkan dengan kerugian harian yang ditimbulkan oleh konflik ini.
Lalu, apa solusinya? Laporan itu mengusulkan beberapa langkah konkret untuk mengurangi ketergantungan dan goncangan harga.
Untuk rute jarak pendek seperti feri atau kapal kargo pesisir elektrifikasi dinilai sebagai peluang paling realistis dalam waktu dekat. Sementara untuk pelayaran jarak jauh, efisiensi bisa dikejar dengan cara-cara operasional. Misalnya, menerapkan ‘slow steaming’ atau berlayar dengan kecepatan rendah, dan memanfaatkan teknologi propulsi berbantuan angin. Langkah-langkah sederhana itu ternyata mampu menghemat bahan bakar secara signifikan.
Intinya, industri ini sedang dihadapkan pada pilihan yang sulit. Terus menanggung risiko fluktuasi harga bahan bakar fosil, atau mulai berani beralih ke alternatif yang lebih stabil dan bersih. Jawabannya mungkin sudah jelas, tapi jalan menuju ke sana masih penuh liku.
Artikel Terkait
BMKG Peringatkan Potensi Hujan Lebat hingga Sangat Lebat di Sejumlah Wilayah
Timnas Indonesia Hadapi Bulgaria di Final FIFA Series 2026 Usai Kemenangan Besar
Diduga ODGJ Mengamuk, Enam Warga Grobogan Terluka Bacokan
Delapan Dapur Gizi di Tulungagung Ditutup Sementara Diduga Langgar SOP dan Terkait Keracunan