Biaya Operasional Pelayaran Global Membengkak Rp5,6 Triliun per Hari Akibat Ketegangan Selat Hormuz

- Senin, 30 Maret 2026 | 03:00 WIB
Biaya Operasional Pelayaran Global Membengkak Rp5,6 Triliun per Hari Akibat Ketegangan Selat Hormuz

Biaya operasional di lautan global tiba-tiba membengkak. Pemicunya? Ketegangan yang memanas di sekitar Selat Hormuz. Menurut analisis dari Transport and Environment, yang dilansir Xinhua, industri pelayaran kini harus mengeluarkan tambahan biaya bahan bakar yang fantastis: 340 juta euro per hari. Bayangkan, angka itu setara dengan miliaran rupiah yang menguap begitu saja.

Lonjakan harganya sendiri sungguh mencengangkan. Di Singapura, harga bahan bakar minyak rendah sulfur (VLSF) sudah menembus 941 euro per ton. Itu artinya naik drastis, sekitar 223 persen sejak awal tahun 2026. Belum lagi harga LNG yang ikut meroket 72 persen sejak Maret lalu. Beban ini langsung terasa di kantong para pemilik kapal.

Sejak serangan besar-besaran AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu, akumulasi kerugiannya sudah menggunung. Perusahaan pelayaran tercatat telah menanggung beban tambahan lebih dari 4,6 miliar euro. Angka yang sulit dicerna.

Masalahnya mendasar: hampir seluruh armada dunia, tepatnya 99 persen, masih bergantung pada bahan bakar fosil. Kondisi ini membuat industri pelayaran sangat rentan. Setiap gejolak harga atau gangguan pasokan, dampaknya langsung terasa seperti pukulan telak.

Editor: Redaksi MuriaNetwork


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar