Akarnya lebih tua lagi. Tradisi Syiah menceritakan syahidnya Hussein di Karbala pada 680 Masehi, di mana dari darahnya konon tumbuh tulip merah. Legenda serupa ada dalam epos cinta Farhad dan Shirin.
Jadi, Nishan Rasmi itu bukan sekadar lambang. Ia pertemuan antara religiusitas, patriotisme, dan narasi pengorbanan dalam imajinasi kolektif rakyat Iran.
Uniknya lagi, di batas pemisah warna, ada kaligrafi "Allahu akbar" yang diulang 22 kali. Ini merujuk pada 22 Bahman 1979, tanggal bersejarah runtuhnya monarki. Detail ini bikin bendera Iran jadi satu-satunya panji nasional yang menghiasi garis pembagi warnanya dengan kaligrafi sedemikian kompleks.
Kini, di tengah tekanan militer, bendera itu tetap berkibar. Jutaan warga turun ke jalan membawanya sebagai bentuk loyalitas, terutama setelah wafatnya Ayatollah Ali Khamenei. Di dunia maya, emotikon bendera Iran dengan tulip merah jadi alat ekspresi solidaritas atau pernyataan politik warga net lintas negara.
Matahari, Singa, dan Simbol yang Tak Pernah Mati
Meski terasa baru di pemberitaan, bendera Republik Islam Iran cuma satu bab dari sejarah panjang simbol Persia.
Sebagai peradaban tua, Iran punya banyak panji. Setelah revolusi pun, sempat ada bendera transisi triwarna dengan lambang cakram matahari karya Sadegh Tabrizi, yang hanya bertahan beberapa bulan di awal 1980.
Simbol itu masih terhubung dengan bendera era Dinasti Pahlavi, yang menampilkan singa emas menggenggam pedang dengan matahari di belakangnya. Ikon singa dan matahari ini sudah ada sejak dinasti-dinasti sebelumnya seperti Safawi dan Qajar.
Di era sekarang, lambang itu diasosiasikan dengan kelompok nasionalis dan pendukung Reza Pahlavi, putra shah terakhir. Awal 2026 ini, simbol itu kembali hidup dalam demonstrasi anti-pemerintah, baik di dalam negeri maupun di kalangan diaspora.
Bahkan di platform X sempat ramai, ketika emotikon bendera Iran tiba-tiba diganti versi singa dan matahari meski di perangkat pengguna tetap muncul versi resmi.
Tapi, terlepas dari upaya menghidupkan simbol lama, bendera berhiaskan bulan sabit, pedang, tulip merah, dan kaligrafi takbir itu tampaknya akan tetap tegak. Selama Republik Islam berdiri di tengah tekanan, ia akan terus berkibar dan makin dikenal global.
Pada akhirnya, yang terjadi di Iran sekarang bukan cuma benturan senjata. Ini juga pertarungan simbol. Sebuah gelanggang tempat panji, warna, dan makna saling sikut berebut pengaruh, dari peta geopolitik yang panas sampai imajinasi masyarakat dunia yang menyaksikannya dari jauh.
Artikel Terkait
Kuasa Hukum Jap Ferry Sanjaya Bantah Unsur Pidana dalam Kasus Plaza Klaten
Gus Ipul Tinjau STIP Marunda, Calon Lokasi Baru Sekolah Rakyat
Timnas Indonesia Bantai Saint Kitts dan Nevis 4-0 di Laga Perdana Era Herdman
Menteri Riefky Sebut Ekonomi Kreatif sebagai Tambang Baru Penggerak Ekonomi