Di sisi lain, Trump tampaknya merasa AS telah berbuat lebih. Dia menyayangkan sikap NATO ini, mengingat Amerika selama ini dikenal sebagai pelindung utama bagi negara-negara anggotanya di Eropa, terutama saat Rusia berperang dengan Ukraina. Ada rasa ketidakseimbangan yang kuat dalam pernyataannya. Seolah-olah pengorbanan AS tidak dibalas dengan sikap yang sama ketika mereka yang membutuhkan.
Kritik Trump ini bukan hal baru, tapi konteksnya kali ini cukup menarik. Dia menyoroti sebuah titik rawan global Selat Hormuz yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia. Permintaannya untuk sekutu terdekatnya ternyata tak mendapat respons yang memuaskan. Hal ini tentu memunculkan pertanyaan tentang soliditas aliansi di luar teater Eropa.
Lalu, bagaimana reaksi NATO? Sampai saat ini belum ada tanggapan resmi. Namun, komentar Trump ini pasti akan mengguncang meja diplomasi, setidaknya untuk sementara. Dia selalu punya cara untuk menyulut perdebatan.
Artikel Terkait
Timnas Indonesia Tuntaskan Laga dengan Kemenangan 4-0, Herdman Soroti Disiplin Awal
Prabowo Antar Langsung PM Anwar hingga ke Halim, Akhiri Kunjungan dengan Kehangatan
BPJS Ketenagakerjaan: Dana JHT Bisa Dicairkan Sebelum Pensiun dalam Kondisi Tertentu
Ombudsman Beri Tujuh Rekomendasi Perbaikan Layanan Arus Balik di Pelabuhan Tanjung Kalian