Kolombo: Pemerintah Sri Lanka punya permintaan khusus buat para pemilik mobil listrik: tolong, jangan ngecas di malam hari. Imbauan ini bukan tanpa alasan. Jaringan listrik nasional mereka kewalahan menanggung lonjakan konsumsi malam hari, yang akhirnya malah memaksa penggunaan energi fosil lebih banyak.
Menurut Presiden Anura Kumara Dissanayake, ada kebiasaan yang bikin masalah. Begitu pulang kerja, banyak pemilik EV langsung colokkan mobilnya untuk diisi daya. “Hal ini memberikan beban tambahan pada jaringan listrik,” ujarnya.
Ia melanjutkan, “Kami terpaksa mengoperasikan seluruh pembangkit untuk memenuhi lonjakan ini.”
Lonjakan itu disebutnya mencapai 300 megawatt. Nah, untuk menutupi kebutuhan malam itu, Sri Lanka masih sangat bergantung pada pembangkit batu bara berkapasitas 900 megawatt, ditambah sekitar 1.000 megawatt dari diesel. Ironis, kan? Mobil yang dianggap ramah lingkungan justru membuat negara kembali menggantungkan diri pada bahan bakar fosil di jam-jam tertentu.
Masalahnya, Sri Lanka belum punya sistem penyimpanan energi skala besar. Padahal, di siang hari justru ada kelebihan listrik dari tenaga surya yang sayang untuk dibiarkan terbuang. Makanya, pesan Dissanayake sederhana: “Isi daya mobil Anda siang hari saat kami memiliki kelebihan listrik.”
Untuk mengatur ini, pemerintah dikabarkan sedang menyiapkan skema tarif listrik baru. Tujuannya jelas, mendorong orang berpindah waktu pengisian daya.
Lonjakan jumlah kendaraan listrik ini sendiri terjadi setelah Sri Lanka mencabut larangan impor kendaraan yang berlaku lima tahun, tepatnya pada Februari 2025. Sejak saat itu, lebih dari 10 persen kendaraan baru yang masuk ke negara itu adalah mobil listrik.
Namun begitu, tren positif ini datang di waktu yang sulit. Negeri itu sedang dilanda krisis energi, yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah. Dampaknya nyata: pemerintah sampai memberlakukan pembatasan bahan bakar dan sistem kerja empat hari dalam seminggu sejak 18 Maret lalu, semua untuk menghemat energi.
Presiden juga mengungkapkan kabar buruk. Negara mereka gagal mendapatkan dua pengiriman minyak mentah, masing-masing 90.000 ton, karena konflik yang sama. Sekarang, Sri Lanka sedang berupaya menjalin kerja sama dengan negara-negara sahabat, seperti India dan Rusia, untuk memenuhi kebutuhan energinya yang mendesak.
Dampak kebijakan penghematan ini langsung terasa di jalanan. Tanggal 18 Maret lalu, suasana Colombo terasa lengang. Lalu lintas sepi, sementara sekolah, kantor pemerintah, dan bank tutup untuk sementara. Sebuah pemandangan yang jarang terjadi di ibu kota yang biasanya ramai.
(UDA)
Artikel Terkait
PAN: Genggaman Tangan Prabowo-Megawati Cermin Hubungan Sehat Antar Pemimpin Bangsa
Tim Jibom Temukan Granat Nanas dan Proyektil Modifikasi saat Sterilisasi Lokasi Ledakan di Biak
Iran Hancurkan 20 Fasilitas Militer AS di Timur Tengah, Termasuk Sistem Rudal THAAD Senilai Miliaran Dolar
Wali Kota Bandung Desak Pemprov Jabar Tetapkan Status Darurat Sampah Pascamusim Libur