Komite Olimpiade Internasional (IOC) akhirnya mengambil langkah tegas. Mereka merilis kebijakan baru yang membatasi kelayakan atlet perempuan untuk bertanding di kategori putri dalam ajang Olimpiade. Intinya, kebijakan ini ingin menjaga keadilan kompetisi dengan lebih jelas mendefinisikan siapa yang boleh berlaga.
Presiden IOC, Kirsty Coventry, menegaskan dasar dari keputusan ini. "Kebijakan yang telah kami umumkan didasarkan pada sains dan telah dipimpin oleh para ahli medis," ujarnya. Pernyataan itu disampaikan melalui laman resmi IOC dan dikutip di Jakarta pada hari Jumat.
Nah, bagaimana caranya? Ternyata, penentuan kelayakan akan mengandalkan skrining genetik. IOC akan memeriksa ada atau tidaknya gen SRY (Sex-determining Region Y) pada seorang atlet. Menurut mereka, gen ini adalah penanda yang sangat akurat dan permanen seumur hidup, menunjukkan bahwa seseorang pernah mengalami perkembangan jenis kelamin laki-laki.
Metode pengujiannya sendiri disebut-sebut tak terlalu invasif. Cukup dengan sampel air liur, usap pipi, atau darah. Di sisi lain, atlet yang hasil skrining SRY-nya negatif akan langsung memenuhi syarat untuk kategori putri. Kecuali, tentu saja, ada indikasi kuat bahwa hasilnya keliru.
Lalu, bagaimana dengan atlet yang hasilnya positif? Di sini aturannya ketat. Mereka umumnya tidak akan memenuhi syarat untuk kategori wanita di bawah bendera IOC. Namun begitu, ada pengecualian langka untuk kondisi seperti Sindrom Insensitivitas Androgen Lengkap (CAIS) atau gangguan perkembangan seks langka lainnya, di mana tubuh tidak mendapat manfaat dari testosteron.
Artikel Terkait
1.300 Personel Gabungan Amankan Dua Laga FIFA Series di GBK
Panglima TNI Ambil Alih Langsung Jabatan Kepala BAIS di Tengah Kasus Aktivis
Bappenas Soroti Peran Vital Riset BRIN untuk Dongkrak Produktivitas Peternakan
Timnas Indonesia Naik ke Peringkat 121 FIFA, Geser Malaysia yang Dihukum