Jadi, ke mana atlet dengan SRY positif ini akan diarahkan? Mereka tetap punya ruang. Misalnya, di kategori pria, slot pria dalam kategori campuran, atau cabang olahraga yang sama sekali tidak membedakan klasifikasi gender. Atlet transgender XY dan atlet XY-DSD yang sensitif androgen masuk dalam kelompok ini.
Sebagai mantan atlet berprestasi, Kirsty Coventry punya pandangan personal tentang ini. Ia sangat percaya pada hak semua atlet untuk merasakan kompetisi yang adil.
"Di Olimpiade, bahkan selisih terkecil pun dapat menjadi perbedaan antara kemenangan dan kekalahan," katanya.
Oleh karena itu, menurutnya, tidaklah adil dan dalam beberapa kasus bahkan berbahaya jika atlet laki-laki biologis bertanding melawan perempuan. Ia menekankan bahwa setiap atlet harus diperlakukan dengan hormat. Proses skrining pun hanya dilakukan sekali seumur hidup, didampingi edukasi dan konseling yang memadai dari para ahli.
Kebijakan baru ini jelas akan memicu perdebatan. Tapi, IOC tampaknya sudah bulat dengan pendekatan berbasis sains mereka, demi menjaga integritas pertandingan di pesta olahraga terbesar dunia itu.
Artikel Terkait
1.300 Personel Gabungan Amankan Dua Laga FIFA Series di GBK
Panglima TNI Ambil Alih Langsung Jabatan Kepala BAIS di Tengah Kasus Aktivis
Bappenas Soroti Peran Vital Riset BRIN untuk Dongkrak Produktivitas Peternakan
Timnas Indonesia Naik ke Peringkat 121 FIFA, Geser Malaysia yang Dihukum