PBB Usulkan Rencana Rp1,5 Triliun untuk Atasi Krisis Bahan Bakar di Kuba

- Jumat, 27 Maret 2026 | 04:15 WIB
PBB Usulkan Rencana Rp1,5 Triliun untuk Atasi Krisis Bahan Bakar di Kuba

Di sisi lain, tuntutan pemerintahan Trump jelas dan berat. Mereka meminta Kuba membebaskan tahanan politik, plus bergerak ke arah liberalisasi politik dan ekonomi. Itulah harga untuk menghentikan blokade.

Trump sendiri tak pernah sungkan menyuarakan keinginannya untuk melihat perubahan rezim di Kuba. Dia bahkan pernah mengemukakan kemungkinan "pengambilalihan secara bersahabat". Baru-baru ini, dia juga berkomentar akan merasa "terhormat untuk mengambil alih Kuba, segera."

Raúl Castro, saudara Fidel Castro yang kini berusia 94 tahun, masih dianggap sebagai tokoh sangat berpengaruh. Ketika ditanya apakah Castro akan punya peran dalam dialog, Díaz-Canel menjawab tegas.

"Mereka juga mencoba berspekulasi bahwa ada perpecahan dalam kepemimpinan revolusi," katanya.

Castro, lanjut Díaz-Canel, "adalah salah satu tokoh yang bersama saya dan bekerja sama dengan cabang lain dari Partai (Komunis), pemerintah, dan negara, telah membimbing bagaimana kami harus menjalankan proses dialog ini, jika dialog tersebut benar-benar terjadi."

Dukungan dari Meksiko

Sementara tekanan dari utara terus berlangsung, dukungan datang dari tetangga. Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum pada Rabu (25/3) menyatakan negaranya akan tetap mempertahankan perjanjian bilateral dengan Kuba. Perjanjian itu memungkinkan dokter-dokter Kuba bekerja di Meksiko.

"Ini adalah perjanjian bilateral yang sangat membantu Meksiko," kata Sheinbaum kepada awak media.

Keputusan ini cukup signifikan, mengingat beberapa negara lain di kawasan justru menghentikan perjanjian serupa setelah menghadapi tekanan dari Amerika Serikat.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang lahir di AS dari orang tua asal Kuba, dengan keras menyebut program pengiriman dokter ini sebagai "bentuk perdagangan manusia."

Menanggapi pernyataan Sheinbaum, Gedung Putih memilih merujuk pada pernyataan Rubio pada Juni 2025 silam. Saat itu, AS mengumumkan pembatasan terhadap pejabat Amerika Tengah yang memiliki hubungan dengan apa yang disebut Kuba sebagai "skema kerja paksa."

Nah, begitulah situasinya. Kuba di tengah krisis, dikepung tekanan politik dan ekonomi, sambil berusaha mencari celah bantuan kemanusiaan. Jalan keluarnya masih panjang dan berliku.

Editor: Hendra Wijaya


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar